Kamis, 31 Januari 2013

kepemimpinan dalam organisasi


BAB XII

KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
 T

elah disebutkan bahwa motivasi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang terdiri kekuatan internal dan eksternal. Motivasi internal ditentukan oleh orang itu sendiri dan didasarkan atas kebutuhan dan keinginannya. Motivasi eksternal dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti gaji, kondisi kerja, kebijaksanaan, perusahaan, pengjhargaan, kenaikan pangkat dan sebagainya. Bagaimana seorang manajer mengendalikan faktor-faktor tersebut dan motivasi pekerja-pekerjanya sangat menentukan seberapa jauh efektif tidaknya dia sebagai seorang pemimpin.

Sebutan “pimpinan” dan “manajer tidaklah perlu dicampur adukkan, karena kepemimpinan (leadership) adalah bagian tersendiri dari manajemen. Manajer melaksanakan fungsi-fungsi penciptaan, perencanaan, pengorganisasian, memotivasi, komunikasi, dan pengendalian (pengawasan ).Termaksud dalam fungsi-fungsi itu adalah perlunya pemimpin  dan mengarahkan.

Bagaimanapun juga  kemapuan seorang manajer untuk memimpin secara efektif akan mempengaruhi  perilaku orang-orang lain. Dia tidak perlu melaksanakan seluruh fungsi, seperti seorang manajer. Dalam kenyataannya, dia tidak diperlukan untuk memijmpin pengikut-pengikutnya  dalam mengararahkan  yang “benar”.  Akan diuraikan faktor-faktor dan berbagai teori perilaku kepemimpinan efektif dalam organisasi formal, yang akan menunjukkan  bahwa motivasi eksternal yang didasarkan pada kepemimpinan yang efektif dapat meningkatkan salah satu kemampuaan  manajerial.

 
PENTINGNYA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI

Kepemimpinan yang efektif harus memberikan pengarahan terhadaap usaha–usaha pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi.kepemimpinan atau bimbingan,hubungan antara perseorangan dan tiujuan organisasi mungkin menjadi renggang (lemah).Keadaan ini menimbulkan situasi dimana perseorangan bekerja untuk mencapai tujuan pribadinya,sementara itu keseluruhan organisasi menjadi tidak efesien dalam pencapaian sasaran-sasaran.
Davis menyebut hal itu sebagai :

……. Tanpa kepemimpinan, suatu organisasi adalah kumpulan orang-orang dan mesin-mesin yang tidak teratur (kacau balau ). Kepemimpinan untuk mencapai tujuan dengan antusias.Ini merupakan faktor manusiawi yang mengikat sebagai suatu kelompok bersama dan memotivasi mereka dalam pencapaian tujuan. Kegiatan-kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian dan pengambilan keputusan merupakan sebuah kepompompong yang tidur (tidak aktif) sampai pimpinan cepat bertindak untuk menghidupkan motivasi dalam setiap orang dan mengarahkan mereka mencapai tujuan. Kepemimpinan merubah sesuatu yang potensial menjadi kenyataan.Ini adalah  kegiatan pokok yang memberikan sukses bagi semua hal yang potensial,yaitu suatu organisasi dan anggota-anggotanya. [64]

Oleh karena itu , kepemimpinan sangat diperlukan bila sauatu organisasi ingin sukses.Terlebih lagi pekerja-pekerja  yang baik selalu ingin tahu bagaimanan mereka dapat menyumbang dalam pencapaian tujuan organisasi,dan paling tidak gairah para pekerja memerlukan kepemimpinan sebagai dasar motivasi eksternal untuk menjaga tujuana-tujuan mereka tetap harmonis dengan tujuan organisasi.Jadi,organisasi perusahaan yang berhasil memiliki satu sifata umum yang menyebabakan organisasi tersebut dapat dibedakan dengan organisasi yang tidak berhasil.Sifat dan ciri umum tersebut adalah kepemimpinan yang efekif .

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
 
Latar Belakang dan Studi-studi Klasik Kepemimpinan

Kepemimpinan dan kegagaalamn suatu organisasi selalu dihubungkan dengan kepemimpinan,namun sebenarnya kepemimpinan itu sendiri masih merupakan suatu konsep yang sulit diterangkan atau sebuah “kotak hitam” (black bok) yang sangat indah.Banyak penelitaian dan studi yang telah dilakukan untuk mengungkapkannya tiga terpenting diantaranya adalah :

(1)     Studi lippit dan White.studi yang dilakukan oleh ronald lippit dan ralph K. White pada akhir tahun 1930-an ini,dilakukan terhadap berbagai kelompok hobby anak-anak yang berumur sepuluh tahun .masing-masing kelompok dipimpin oleh pimpinan yang mempunyai gaya (style)yang berbeda-bedayang otoriter (otokratis),demokratisa atau laissezfaire walaupun penelitian ini tidak memasukkan banyak variable tetyapi telah menemukan bahwa perbedaan gaya kepemimpinan telah membuktikan reaksi dan hasil yang berbeda-beda pula.

(2)     Studi Ohio state. Biro penelitian bisnis di Ohio State University mencoba menganalisa bermacam-macam dimensi perilaku kepemimpinan yang efektif dalam berbagai kelompopk dan situasi .Penelitian ini menggunakan kuesioner deskripsi perilaku pemimpin (Leader Behaviour Description Questionnaire LBDQ) dan dengan memberikan berbagai macam situasi utama yang selalu muncul,yaitu perhatian (consideration) dsan struktur pengambilan inisiatif (initiating structure).Faktor consideration menggambarkan hungan yang hangat antara seorang atasan dan bawahan, adanya saling percaya,kekeluargaan dan penghargaan terhadap gagasan bawahan.Iniating structure menjelaskan bahwa seorang pemimpin mengatur dan menentukan hubungannya dengan bawahananya.Pemimpin itu menentukan pola organisasi,seliuruh komunikasi sruktur dalaam peran pencapaian tujuan organisasi dan cara pelaksanaanya.studi ini menunjukkan fungsi-fungsi kepemijmpinan yang penting,yaitu berpijak pada pengarahan tugas atau tujuan dan perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan individu.

(3)     Studi Early Michigan. Studi ini dilakukan oleh pusat penelitian survei University of Michigan pada tahun 1947.Studi ini bertujuan untuk menentukan prinsip-prinsip yang mempengaruhi produktivitas kelompok kerja dan kepuasan [para anggota kelompok atas dasar partisipai yang mereka berikan.Dietetapkan berbagai ukuran kuantitatif variable-variable yang mempengaruhi para mandor dan pekerja.ukuran –ukuran yang sistematik mengenai persepsi serta sikap para mandor dan pekerja tersebut kemudaian dihubungkan dengan ukuran-ukuran pelaksanaan kerja.Hal ini meliputi juga variable-variable tanpsikologis yang juga mempengaruhi moral dan produktivitas .Jadi,faktor-faktor yang dikendalikan adalah tipe pekerjaan ,kondisi kerja dan metode kerja. Dua belas pasangan dengan produktivitas tinggi dan rendaah dipih untuk diuji.wawancara bebas dilakukan terhadap 24 mandor seksi dan 419 pekerja administrasi.Hasilnya menunjukkan bahwa para mandor yang bekerja pada seksi “high producing “ lebih menyukai  :

a.     Untuk menerima pengendalian yang lebih besifat umum daripada yang khusus
b.     Sejumlah wewenang dan tanggung jawab yang mereka punyai dalam pekerjaannya.
c.     Mempergunakan Waktunya untuk pengendalian .
d.     Memberikan pengendalian lebih umum kepada para karyawannya daripada yang khusus.
e.     Orientasi lebih pada karyawan daripada orientasi pada produksi.

Sedangkan bagi para mandor yang bekerja pada seksi “low producing “ mempunyai ciri-ciri dan teknik yang berlawanan, yaitu pengendalian khusus dan orientasi pada produksi.penemuan yang lain yang penting kadang-kadang diabaikan adalah bahwa kepuasan karyawan tidak berhubungan secara langsung dengan produktivitas.

Ketiga studi tersebut merupakan studi terpenting kepemimpinan dalam mempelajari perilaku organisasi.sebelum mencoba untuk analisa kedudukan kepemimpinan suatu organisasi,kita perlu menulusuri perkembangan teori kepemimpinan terlebih dahulu.

B. Teori sifat kepemimpinan

Analisa ilmiah tentang kepemimpinan mulai dengan memusatkan perhatian dan para pemimpin itu sendiri.Pertanyaan yang penting yang coba dengan pendekatan teorutik ini adalah ,apa ciri-ciriatau sifat sifat yang membuat seorang menjadi seorang pemimpin ? Teori-teori sifat (trait theoris) yang dapat ditelusiri kembali sampai zaman kerajaan Yunani dan Romawi ,mengemukakan bahwa pemimpin itu dilahirkan,bukan dibuat . Teori ini sering ,disebut juga teori great man”lebih lanjut menyatakan bahwa seseorang itu dilahirkan membawa atau tidak membawa ciri-ciri atau sifat-sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin atau dengnan kaata lain , individu yang telah dilahirkan telah membawa ciri-ciri tertentu yang memungkinkan dia dapat menjadi seorang pemimpin.

Kepemimpinan adalah suatu fungsi kualitas individu, bukan fungsi situasi,teknologi atau dukungan masyarakat.Hal ini mengandung pengertian dasar bahwa penelitian-penelitian kepemimpinan selalu condong menyatakan individu merupakan sumber-sumber kegiatannya.Atas dasar pendapat ini,para teoritisi sifat kepemimpinan berusaha untuk mempelajari kepemimpin berusaha untuk mempelajari sejarah pemimpin-pemimpin besar seperti Napoleon,Hitler, Mao Tse Tung,Mahamat Gandhi, dan sebagainya , untuk menemukan ciri-ciri kepemimpinan alamiah yang mampu membuktikan situasi dan menjadi pemimpin besar. 

Disamping pertanyaan pertama di atas, para teoritisi sifata juga mencoba menjawab pertanyaan pokok lainnya  yang muncul, apa yang menyebabkan pemimpin–pemimpin yang lebih “baik” dari pada yang lainnya ?.Peneliltian dilakukan sejak tahun 1930 sampai 1950.hasilnya menyatakan bahwa hanya ciri intelegensia atau kecerdasan yang mempunyai deraja konsistensi yang tinggi ,kemudian disusul dengan inisiatif,orang yang mementingkan hal-hal lahiriah (extroverson), rasa humor, antusiasme, keadilan dan kejujuran, simpati, serta kepercayaan diri.

Keith Davis mengikhtisarkan ada 4 ciri utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi  [65]

(1)      Kecerdasan (intellegence).penelitian–penelitian pada umumnya menunjukkan bahwa seseorang pemimpin mempunyaia tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya,tetapi tidak sangat berbeda.

(2)       Kedewasaan sosial dan hubungana Sosial yang luas (social maturity dan  breath).
Pemimpin cenderung mempunyai tingkat emosi yang stabil dan dewasa atau matang ,serta mempunyai kegiatan-kegiatan yang luas.

(3)      Motivasi diri dan dorongan berprestasi. Pemimpin secara relatif mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi.mereka bekerja lebih untuk nilai intrinsik daripada ekstrinsik.

(4)      Sikap-sikap hubungan manusiawi. Seorang pemimpin yang sukses akan mengakui harga diri dan martabat pengikut-pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasi pada karyawan.

Ciri-ciri dikemukakan Davis di atas hanyalah salah satu daftar diantara banyak kemungkinan sifat-sifat penting kepemimpinan organisasional. Meskipun seseorang dapat memperoleh data-data untuk mendukung sifat-saifat pada daftar Davis atau ahli lain,sampai sekarang tidak ada yang konklusif.Teori sifat kepemimpinan ini lebih bersifat deskriftif tetapi dengan nilai analitis dan prediktif yang rendah.

C. Teori Kelompok

Teori kelompok dalam kepemimpinan (group theory of leadership) dikembangkan atas dasar iolmu psikologik sosial.Teori ini menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan –tujuan kelompok harus ada pertukaran yang positif antara pimpinan dan bawahannya.Kepemimpinan ini merupakan suatu proses pertukaran (exchange process) antar pemimpin dan pengikutnya ,yang juga melibatkan konsep sosioplogi tentang peranan yang diharapkan kedua belahpihak.penelitian psikologi sosial dapat digunakan untuk membantu dalam penerapan konsep pertukaran dan peranan tersebut pada proses kepemimpinan.Hal ini nampak pula pada dari hasil studio Ohio State khususnya dimensi pemberian penelitian (consideration ) pada para bawahan yang akan memperluas pandangan kelompok terhadap kepemimpinan.
Bila kita lihat kembali penelitian-penelitian yang pernah dilakukan ,kita akan menemui data-data yang menunjukkan bahwa para pemimpin yang selalu memperhatikan dn memperhitungkan bawahannya.Hal ini mempunyai dampak positif pada sikap,kepuasan dan pealaksnaan kerja.Tetap bagaimanapun juga,tanpa mengurangi arti penemuan ini,terdapat lainnya dalam proses kepemimpinan,seperti ciri-ciri seorang pemimpin dan variable situasional.

D. Teori Situsional (contigency)
Setelah baik pendekatan sifat maupun kelompok terbukti tidak memadai untuk mengungkap teori kepemimpinan yang menyeluruh,perhatian dialihkan pada aspek- aspek situasional kepemimpinan.Dimulai pada tahun 1940-an,para ahli psikologik sosial melakukan penelitian untiuk mencari variable-variable situasional yang ,mempunyai dampak pada peranan-peranan ,keterampilan-keterampilan,dan perilaku kepemimpinan serta terhadap pelaksanaan atau prestasi dan kepuasan kerja para bawahannya. Fred Fiedler telah mengajukan sebuah model dari situasional bagi efektivitas kepemimpinan yang dikenal sebagai cintigency model of leadership effectiveness  [66]

Model ini menjelaskan hubungan antara gaya kepemiompinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan .Situasi–situasi tersebut digambarkan oleh Fiedler dalam tiga dimensi empirik yaitu 1)hubungan pimpinan anggota ;  2) tingkat dalam struktur tugas ; dan 3)posisi kekuasaan pemimpin yang didapatkan melalui wewenang formal. Situasi-situasi ini mengiuntungkan bagi pemimpin bila ketiga dimensi di atas adalah derajat tinggi.Bila situasi terjadi sebaliknya maka akan sangat tidak menguntungkan bagi pemimpin.Atas dasar penemuannya, Feidler berkeyakinan bahwa situasi-situasi menguntungkan yang dikombinasikan dengan gaya kepemiompinan akan menentukan efektivitas pelaksanaan kerja kelompok.

Penemuan Feidler menunjukkan bahwa dalam situasi yang sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan, tipe pemimpin yang berorientasi pada tugas atau pekerjaannya (task-directed atau “hard-nosed”) adalah sangat efektif.tetapi bila situasi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan hanya moderat (terletak pada range tengah),tipe pemimpin hubungan manusiawi atau yang lebih toleran dan lunak (“leniet”) akan sangat efektif.Gambar 12 – 1 akan meringkas dan memperjelas hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan [67] akan Gaya Kepemimpinan
          

         Orientasi tugas                    



                             
                            0

  

  Hubungan manusiawi


                                               -                           0                       +
                                                   sangat tidak          tidak menguntung              menguntungkan           sangat
                                                menguntungkan                                                                                   menguntungkan

Tingkat situasi menguntungkan atau tidak menguntungkan       
Gambar 12 – 1. Model Kepemimpinan Fiedler

Sebagai contoh mengapa tiap pemimpin yang orientasi tugas ,sukses dalam situasi yang sangat menguntungkan? Feidler memberikan penjelasan bahwa dalam kondisi yang sangat menguntungkan dimana pemimpin mempunyai kekuasaan, siap untuk dirahkan dan mengharapkan petunjuk apa yang harus dikerjakan.

 

E. Teori Path-Goal

Telah diakui  secara luas bahwa teori kepemimpinan  dikembangkan dengan mempergunakan kerangka dasar teori motivasi .Ini merupakan pengembangan yanmg wajar,sebab kepemimpinan itu erat hubungannya dengan motivasi disatu [ihak dan dengan kekuasaan di pihak lain.Teori path-goal ini menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan  (terutama perilaku pemimpin ) terhadap motivasi bawahan,kepouasan dan p[elaksanaan kerja.Teori ini memasukkan empat tipa atau gaya perilaku pemimpin, yaitu [68] :   

1.     Kepemimpinan direktif  (directive leadership ). Baawahan tahu secara jelas apa yang harapkan  dari mereka dan perintah –perintah  khusus dibe1rikan oleh pemimpin .Disini tidak ada partisipasi oleh bawahan (pemimpin yang otokratis ) .Hasil penemuan menyatakan bahwa gaya kepemimpinan direktif memp[unyai hubungan yang positif dengan kepuasan dan harapan bawahan yang mel;akukan pekerjaan yang positif  kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan tugas –tugas jelas.
2.     Kepemimpinan supportif  (supportive leadership ).pemimpin yang selalu bersedia menjelaskan ,sebagai teman,mudah didekati dan menunjukkan diri sebagai orang sejati bagi bawahannya.Gaya kepemimpinan ini mempunyai pengaruh yang sangat positif pada kekuasaan bawahan yang bekerja dengan tugas-tugas yang penuh tekanan,frustasi dan tidak memuasakan.
3.     Kepemimpinan partisipatif (parcitipative leadership) .pemimpin meminta dan menggunakan saran –saran bawahan,tetapi masih membuat keputusan.Kebanyakan studi dalam organisasi industri manufactur menyimpulkan bahwa dalam tugas – tugas yang tidak rutin karyawan lebih puas dibawah pimpinan yang partisipatif daripada pemimpin yang non-partisifatif.
4.     Kepemimpinan orientasi-prestasi  (participative leadership ). Pemimpin mengajukan tantangan –tantangan dengan tujuan yang menarik bagi bawahan yang merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya                tugas-tugas mendua dan tidak rutin,makin tinggi orientasi pemimpin akan prestasi,makin banyak bawahan yang percaya bahwa usaha mereka akan menghasilkan kerja yang efektif.
Jadi gaya-gaya kepemimpinan ini dapat dipergunakan oleh pemimpin yang dalam berbagai situasi yang berbeda.Baik model Feidler maupun teori path-goal memasukkan tiga variable penting dalam kepemimpinan, yaitu :pemimpin,kelompok dan situasi.

 

F. Kepemimpinan  sebagai Sistem Pengaruh

Model sistem pengariuh ini dapat memperjelas be1tapa kompleksnya teori kepemimpinan modern.Gambar 12-2 menunjukkan bagaimana inti kepemimpinan menjadi pengaruh yang meliputi sistem interaksi antara pemimpin,kelompok dan situasi.Pemimpin mempengaruhi kelompok dan saituasi. Situasi mempengaruhi pemimpin dan kelompok Jadi tiap-tiap subsistem mempengaruhi dan dipengaruhi oleh subsistem yang lain.Model  sistem pengaruh ini tampaknya merupakan model yang secara paling akurat menguraikan apa itu proses kepemimpinan.Pembahasan berikut akan banyak berkaitan dengan model ini dan latar belakang teoritis lain gaya-gaya kepemimpinan dan survei yang digunakan dalam praktek manajemen sumber daya manusia.




                                                                          Pemimpin
 







                                                                           Pengaruh





Situasi                                                                                    Kelompok

Gambar 12 – 2. Model Sistem Pengaruh Kepemimpinan

GAYA-GAYA KEPEMIMPINAN

Pendekatan “sifat” mencoba untuk menjelaskan apa itu pemimpin pendekatan lain untuk memahami kepemimpinan yang sukses memusatakan diri dari apa yang dilakukkan seorang pemimpin – gayanya.Corak atau gaya kepemimpinan (leadership style) seorang manajer akan sangat mempengaruhi terhadap aktivitas seorang pemimpin.Pemilihan gaya kepemimpinan yang benar disertai dengan motivasi eksternal yang tepat dapat mengarahkan pencapaian tujuan perseorangan maupun tujuan organisasi.Dengan gaya kepemimpinan atau teknik memotivasi yang tidak tep[at,tujuan organisasi akan terbengkalai dan pekerja-pekerja dapat merasa kesal, gelisah, berontak dan tidak puas.
Gaya kepemimpinan adalah suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya.Secara relatif ada tiga macam gaya kepemiompinan yang berbeda ,yaitu otokratis demokratis, atau partisifatif dan laissez-faire, yang semuanya pasti mempunyai kelemahan – kelemahan dan keuntungannya.Ketiga gaya kepemimpinan tersebut secara singkat dalam tabel 12-1 berikut ini.










Tabel 12 –1. Tiga Gaya Kepemimpinan

 
OTOKRATIS
DEMOKTARIS
LAISSEZ-FAIRE
1.      Semua penentu kebikasanaan dilakukan oleh pemimpin.



2.      Teknik-teknik dan langkah-langkah kegiatan didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkat yang luas.





3.      Pemimpin biasanya mendikte tugas kerja bagian dan kerja bersama setiap anggota.


4.      Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota: menggambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjkkan keahliannya.
1.       Semua kebijakan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
2.       Kegiatan-kegiatan yang di diskusikan langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok di buat dan bila dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yanag dapat di pilih.


3.       Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.
4.       Pemimpin adalah objektif atau “factmindod” dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tampa melakukan banyak pekerjaan

1.       Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin.
2.      Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan olah pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberikan informasi pada saat ditanya. Dia tidak mengambil bagian dalam diskusi kerja.
3.      Sama sekali tidak ada pertisipasi dalam menentukan tugas.


4.      Kadang-kadang memeberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur siuatu kejadian

Sumber: Ralph White dan Ronald Lipiit, Autocracy and Demoncracy, Harper & Row Publishers, Inc. , 1960, halaman 26-27



 


 
 



                                                                                                          
OTOKRATIS                                                                        DEMOKRATIS
                                               
                                                                                                                 
 
 
                                                                               
Oval: P
 


LAISSEZ-FAIRE                              Keterangan : P = Pemimpin

Seperti telah disebutkan ,terminologi” gaya “ secara kasar atau ekuivalen dengan perilaku pemimpin .Hal inimerupakan cara dengan mana pemimpin mempengaruhi para bawahannya. Studi – studi dan teori – teori klasik maupun modern yang telah dibahas dimuka secara langsung atau tidak langsung mempunyai implikasi-implikasi pada gaya kepemimpinan.Sebagai contoh,studi Hawthorne diinterprestasikan dalaqm istilah – istilah gaya pengawasan, dan Teori X dari Douglas McGroger mencerminkan gaya otokratis dan teori Y nya ,menunjukkan gaya kepemimpinan humanistik.Studio Ohio State mendefinisikan perhatian (tipr gaya suportif ) dan struktur pengambilan inisiatif (tipe gaya direktif) yang menjadi fungsi-fungsi kepemimpinan utama.Baik teori-teori sifat maupun kelompok juga mempunyai implikasi secara tidak langsung pada gaya, dan gaya-gaya hubungan manusiawi dan orientasi-nya meminkan pe1ranan langsung dalam teori contingency fiedler.Konsepsualisasi  “path-goal “sepenuhnya tergantung pada gaya-gaya kepemimpinan direktif,supportif,partisifatif dan orientasi-prestasi.
Berbagai macam gaya yangn telah dibahas sejauh ini dapat digabungkan menjadi suatu rangkaian kesatuan sebagai berikut  :


 
Terpusatkan pada atasan                                               Terpusatkan pada bawahan
       (bos-centeret)                                                               (subordinate-centeret)                               
Teori X                                                                           Teori Y
Otokratis                                                                         Demokratis
Orientasi-Produksi                                                          Orientasi Karyawan
Tertutup                                                                          Umum
Struktur Pengambilan
Inisiatif                                                                            Perhatian
Orientasi-tugas                                                                Hubungan manusiawi
Direktif                                                                            Suportif
Direktif                                                                            Partisipatif


Walaupun penyajian ini hanya merupakan ringkasan dan simpulan secara kasar, berbagai macam gaya kepemimpinan dapat dikelompokkan dengan istilah terpusatkan kepada atasan dan terpusatkan pada bawahan,seperti digunakan dal;am gambar 12.4 Deskripsi 12.24 memberikan ringkasan menyeluruh secara berbagai macam gaya kepemimpinan.


Kepemimpinan
Dipusatkan pada
Kepemimpinan yang                                                                                                        bawahan
Dipusatkan pada pimpinan
 






Manajer mem-                     manajer                      manajer                                 manajer
buat keputusan                    mengemukakan         menyampaikan                   memperbolehkan bawahan
dan mengemukakan           ide-idenya dan          masalah, menerima            berfungsi dengan batasan-
                                           mengandung                   saran-saran, dan                  batasan yang ditentukan
                                           pertanyaan                 membuat keputusan           oleh atasan

                              Manajer                      Manajer                              Manajer              
                              “menjual”                   menyampaikan ke-             menentukan batas-batas
                               keputusan                  putusan sementara               meminta kelompok untuk
                               yang dapat diubah     membuat keputusan
 




Gambar 12-4. Rangkaian Kesatuan Perilaku Kepemimpinan


Source : Robert Tannenbaum dan Warren H. Schmit, “How to Choose a Leadership Pattern”, Havard Bussiness Review, Maret-April 1938, halaman 96




Kebanyakan manajer mempergunakan ketiganya pada suatu waktu,tetapi gaya yang paling sering digunakan akan dapat digunakan untuk membedakan seorang manajer yangb otokratis ,demokratis atau laissez-faire.

Perbedaan gaya kepemimpinan dalam organisasi akan mempunyai yang berbeda pula pada partisipasi individu dan perilaku kelompok.sebagai,partisipasi dalam pengambilan keputusan pada gaya kepemimpinan keputusan pada gaya kepemimpinan demokratis akan mempunyai kepemimpinan demokratis akan mempunyai dampak pada peningkatan hubungan manajer dengan bawahan,menaikkan moral dan kepuasan kerja,dan menurunkan ketergantungan terhadap pemimpin .tetapi hal ini kadang-kadang menimbulkan kerugian dengan menurunnya produktivitas dan sulit mengambil keputusan yang akan dapat memuaskan semua pihak.Ini akan lebih dapat dihindari dengan gaya kepemimpinan otokratis.

Kepemimpinan otokratis lebih banyak mengalami masalah pemberian perintah kepada bawahan. Kepemimpinan demokratis cenderung mengikuti pertukaran pendapat antara orang-orang yang terlibat.Dalam kerpemimpinan laisse-faire,pemimpin memberikan kepemimpinannya bila diminta.Hubungan pemimpin dengan bawahan dari masing-masing tipe kepemimpinan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut ,seperti terlihat dalam gambar 12-3. [69]

A. Gaya – gaya Manajerial Grid

Salah satu pendekatan yang sangat populer untuk mengidentifikasikan berbagai gaya kepemimpinan para manajer praktisi adalah penggunaan “manajerial grid “ yang dikemukakan oleh Robert R.Blake dan Jane S. Mouto. Gambar 12-5 menunjukkan bahwa dua dimensi jaringan  (grid) adalah perhatian terhadap karyawan sepanjang aksis vertikal dan perhatian terhadap produksi sepanjang horizontal. Dua dimensi ini ekuivalen dengan fungsi-fungsi perhatian dan struktur pengambilan inisiatif yang diidentifisikan Studi Ohio State ,dan gaya – gaya orientasi karyawan dan orientasi produksi yang digunakan  dalam studi Michigan.











                                                                                             Gaya-gaya tidak efectif




                                   
                                Gaya-Gaya Dasar
 


Lebih Efectif


   Gaya-gaya tidak efectif
                                                                              Orientasi Tugas
   Kurang Efectif



Sumber : W.J. Reddin. Managerial Effectuveness, McGraw-Hill Book Company, New York, 1970 halamn 230

Gambar 12-6. Model Efektifitas Kepemimpinan 3-4 D Reddin

Lima gaya dasar yang diidentifikasikan dalam jaringan menunjukkan berbagai macam kombinasi perhatian terhadap karyawan dan produksi.Manajer 1.1 mempunyai perhatian minimum terhadap karyawan dan produksi, dimana kadang-kadang disebut gaya  “improvershed” kebalikannya adalah manajer 9.9 individu ini mempunyai perhatian maaksimum terhadap karyawan dan produksi.Dalam praktek hampir semua manajer merasa bahwa gaya 9.9 adalah gaya manajemen terbaik, tetapi Blake dan Mounton secara berhati – hati menggunakan bahwa gaya terbaik akan tergantung pada situasi. Manajer 5.5 adalah “middle-of- the-roader “ dan dua gaya lainnya mencerminkan  perhatian ekstrim terhadap karyawan  (manajer 1.9 atau “ country club “) dan terhadap produksi (manajer 9.1 atau “task“).

Jaringan Blake dan Mouton mengendentifikasikan gaya seorang manajer , tetapi tidak secara langsung berkaitan dengan efektivitas pada modelnya.Di samping memasukkan dimensi efektivitas ,dia juga mempertimbangkan dampak kepemimpinan 3-D Reddin.

Jaringan pusat dalam gambar 12-6 menyajikan empat gaya kepemimpinan dasar.Gaya –gaya ini secara mendasar sama dengan yang diidentifikasikan oleh Blake dan Mouton. Hal penting yang dikemukakan Raddin adalah bahwa setiap gaya tersebut dapat efektif atau tidak efektif tergantung pada situasi. Empat gaya pada kanan atas adalah efektif dan empat gaya pada kiri bawah adalah tidak efektif.

Secara ringkas,. Kedelapan gaya ini dapat diuraikan sebagai berikut [70]:   
 
B. Gaya – gaya efektif  

1.        Eksekutif  (executive ). gaya ini memberikan perhatian besar baik terhadap tugas maupun karyawan.Manajer yang mnenggunakan gaya ini adalha seorang motivator yang baik, menetapkan standard tingi, menyadari perbedaan-perbedaan individual dan mempergunakan.

2.         Pembangun (developer).gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap karyawan dan perhatian minimum terhadap tugas manajer yang ,menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan penuh pada karyawan dan terutama berupaya untuk mengembangkan mereka.

3.         Otokrat penuh kebijakan (benevolent autocrat ).gaya ini memberikan perhatian terhadap penuh maksimum terhadap tugas dan perhatian minimum pada karyawan.Manajer yang menggunakan gaya ini tahu secara tepat menyebabkan timbulnya kebencian atau kemarahan karyawan.

4.         Birokrat (bureaucrat ).Gaya ini memberikan perhatian minimum baik terhadap tugas maupun karyawan.Manajer yang menggunakan gaya ini terutama kepentingan dengan peraturan-peraturan dan menginginkan terpeliharanya dan terkendalinya situasi melalui penggunaan ketentuan ,produser dan perintah secara tepat ,terperinci dan teliti.
 
Gaya – gaya Tidak efektif

1.        Kompromis (compromiser ).Gaya ini memberikan perhatian besar baik terhadap tugas maupun karyawan dalam situasi – situasi yang hanya memerlukan penekanan salah satu diantaranya.Manajer dengan gaya ini adalah seorang pengambil keputusan yang lemah ,tekanan akan sangat mempengaruhi.

2.         Misionaris ( missionary).Gaya ini memberikan perhatian terhadap karyawan dan perhatian minimum terhadap tugas dimana perilaku seperti itu tidak cocok .Manajer ini terlalu baik hati atau lemah yang ,menilai keharmonisan sebagai hal terpenting.

3.         Otokrat (autocrat ).Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap tugas dan perhatian minimum terhadap karyawan dimana perilaku tidak tepat.Manajer ini tidak mempunyai kepercayaan kepada orang lain ;tidak menyenangkan,menentukan segalanya dan berkepentingan hanya kepada pekerjaan yang dihadapi sekarang.

4.         Pelarian (deserter).Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap tugas dan karyawan dalam situasi dimana perilaku- perilaku seperti itu tidak sesuai.Manajer ini pasif dan tidak mau terlibat atau acuh tak acuh .( cuek dong orangnya}.

Model Reddin ini menjadi teknik yang sangat populer untuk menyusun pogram- program latihan dan seminar – seminar pengembangan eksekutif . Pendekatan 3-D Reddin memadukan ketiga unsur dasar kepemimpinan (pemimpin,kelompok, dan situasi}dan menemukan bahwa manajer mempunyai gaya adaftif yanng mengarah tercapainya efektifitas.

D. Empat Sistem Manajemen Likert

Baik pendekatan Blake dan Mouton maupun 3-D Reddin merupakan pendekatan yang sangat deskriptif, dan secara empirik krekurangan penelitian valid yang mendukungnya.Di lain pihak ,Rensis Likert dengan melibatkan kelompok Michigan dalam melakukan penelitian bertahun-tahun , yang mengemukakan empat sistem  atau gaya dasar kepemimpinan organisasional.Secara ringkas ,keempat gaya tersebut dapat diuraikan sebagai berikut  :

  1. Sistem 1  :Otokratik Eksploatif. Manajer mengambil semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan memerintahkan dan biasanya mengekploitasi bawahan untuk melaksanakannya.

  1. Sistem 2  : Otokratik penuh kebajikan .Manajer tetap mewnentukan perintah –perintah kerja,tetapi bawahan diberi keleluasaan (fleksibilitas ) dalam pelaksanaannya dengan suatu cara paternalistik.

  1. Sistem 3  : Partisifatif. Manajer menggunakan gaya konsultatif.Manajer ini meminta masukan dan menerima parsipatif dari bawahan tetapi tetap menahan hak untuk membuat keputusan final.

  1. Sistem 4 : Demokratik. Manajer memberikan berbagai  pengarahan kepada bawahan tetapi memberikan kesempatan partisipasi total dan keputusan dibuat atas dasar konsensus dan prinsip mayoritas.

Untuk menyokong penelitian empiriknya tentang gaya mana yang paling efektif.Likert dan para koleganya meminta ribuan manajer untuk menggambarkan gaya kepemimpinan mereka menurut variable-variable kepercayaan terhaddap bawahan ,dan keterlibatan dengan bawahan yang dikehendaki atasan.Secara konsisten unit-unit yang berproduksi tinggi ditunjukkan dengan sistem 3 dan 4 dan unit-unt yang berproduksi rendah berada dibawah sistem 1 dan 2.[71]   

Kebutuhan Fleksible Gaya Kepemimpinan


Pembahasan tentang gaya kepemimpinan di atas seharusanya tidak membuat kita berpendapat bahwa seorang individu menjadi pemimpin seharusnya berusaha menjaga gayangan secara konsisten dalam semua kegiatannya.Tetapi  sebaliknya, dia dituntut sedapat mungkin dapat mungkiun untuk fleksible , gaya kepemimpinannya harus dilengkapi dengan per3timbangkan akan situasi khusus dan keterlibatan individu.Ini membuat kita selalu teringat unsur-unsur pokok sistem kepemimpinannya ,kelompok bawahan atau yang dipimpin dan situasi.

Manajer dapat memulai dengan memperkirqkn sistem nilai dirinya dan menentukan gaya kepemimpinan umum yang dirasa cocok. Kemudian ,dia menentukan dimana gaya kepemimpinan yang paling sesuai dan dimana hal ini akan membutuhkan perubahan agar lebih efektif.Setelah dia mencapai hal ini, dia membutuhkan praktek untuk melengkapi proses pendekatan fleksible ini.

SEMOGA SUKSES MENYERTAI ANDA

 
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَتُهُ





  


           


[64] Keith Davis; Humas Behavior at Work: Human Relation and Organization Behavior, edisi keempat, McGraw-Hill, New York, 1972, halaman 100

[65]   Ibid, halaman 103-104
 [66] Fred E. Fliedle, A Theory of leadership effectivences, McGraw-Hill Book Company, N.Y., 1967, halaman 143-144

[67] Ibid, halaman 142-148
[68] Robert J House, “A Path-Goal Theory of Leader Effectivieness”, Administrative Scien Quaterly, Volume 16, 1971, halaman 321-328
[69]  Herbert G. Hicks dan C. Ray Gullett. op. Cit, halaman 303           

                                                                

[70] William J. Raddin, “ Managing Organizational Change “. Personal Journal Juli 1969, halaman 503
[71] ransais Linkert, The Human Organization, McGraw-Hill Book Company, New York, 1967 halamn 3-11