BAB VIII
KOMUNIKASI ORGANISASIONAL
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi,
artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk
saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar
pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam
kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok/organisasi itu selalu terdapat
bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup
kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan. Di antara kedua
belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau
komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan
untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai
tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang
meliputi hubungan sosial/kebudayaan. Hubungan yang terjadi merupakan suatu
proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu
hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang
berkelanjutan.
|
K
|
omunikasi dalam hampir semua organisasi secara jelas
merupakan suatu proses dinamik. Penyampingan informasi yang akurat dan
pemahaman atas informasi dari satu unit (pengirim) ke unit yang lain (penerima)
tidak hanya vital dalam perumusan dan implementasi tujuan-tujuan organisasional
tetapi juga merupakan peralatan dan sarana penting melalui mana
kegiatan-kegiataan organisasional lainnya dilaksanakan. Karena pendelegasian
wewenang dan tanggungjawab ditempuh dan pengelompokan (grouping and
subgrouping) kegiatan-kegiatan dibedakan, koordinasi keluaran (output)
masing-masing unit kerja menjadi kegiatan yang semakin kompleks, dimana hal ini
hanya dapat mencapai dengan komunikasi. Pengelompokan kegiatan-kegiatan juga
mengarahkan perusahaan untuk mengembangkan karakteristik-karakteristik
struktural tertentu yang seperti akan dibahas dibelakang, akan memberikan
pengaruh lebih lanjut pada komunikasi
organisasional.
Komunikasi juga berfungsi sebagai peralatan-peralatan
utama dengan man suatu organisasi secara sukses atau tidak sukses berhubungan
dengan lingkungan tugasnya. Lebuh lanjut, karena suatu perubahan lingkungan
tugas organisasi yang memrlukan tanggapan-tanggapan opersional baru, sistem komunikasi
organisasi harus menyesuaikan diri untuk menyediakan aliran informasi yang
diperlukan. Sistem komunikasi yang dikembangkan secara baik adalah mekanisme
utama yang tersedia bagi organisasi untuk memonitor kondisi-kondisi lingkungan
eksternal dan kemudian menyesuaikan atau merubah operasi-opersainya.
Komunikasi
adalah usaha mendorong orang lain menginterprestasikan pendapat seperti apa
yang dikehendaki oleh orang yang mempunyai pendapat tersebut. Dengan komunikasi
diperoleh titik kesamaan saling pengertian. Kemungkinan salah pengeertian
dengan demikian dapat dihindari, karena tidak adanya atau kurang sempurnanya
penrimaan mereka yang dihubungi dapat dicegah. Walupun komunikasi sempurna
jarang ada, tetapi orang perlu berusaha sedapat mungkin melakukan hal itu.
Andaikata tidak, dia tentu tidak akan berhasil menjalankan fungsinya, apalgi
sebagai manajer yang memimpin.
Seperti
diketahui memimpin itu mengusahakan melalui orang lain agar segala sesuatu itu
terlaksana seperti diharapkan. Kegiatan ini memrlukan komunikasi; tentu saja
komunikasi yang baik dan tepat. Orang harus dapat mengirimkan berita yang
jelas dan dimengerti oleh orang lain.
Selanjutnya berita tersebut diterima dengan baik dan diikuti untuk dilaksanakan
oleh orang lain. Ini selanjutnya menimbulkan sikap dan moral berorganisasi yang
baik. Akhirnya orang akan dapat
mempengaruhi orang lain secara otomatis dan proses berorganisasi berjalan
dengan sendirinya.
Tabel 8-1, menunjukkan konteks dan tipe-tipe komunikasi
yang dibahas, serta pengaruh-pengaruh utama pada
perpindahan informasi. Setiap tingkatan analisis, ada sejumlah
variabel-variabel komunikasi, individual, organisasi dan lingkungan yang harud
diperhatikan.
Pembahasan akan dimulai dengan meninjau kembali dan
menguraikan macam-macam tujuan kegiatan komunikasi, proses dan pola, serta
saluran komunikasi dalam suatu organisasi, terutama menyangkut ciri-ciri dan
implikasi-implikasi aliran vertikal, horizontal dan diagonal dalam hubungannya
dengan komunikasi efektif. Kemudian, kita perlu membahas hambatan-hambatan
terhadap komunikasi akurat. Bab ini akan diakhiri dengan menguraikan
teknik-teknik perbaikan dan pengembangan komunikasi efektif.
Tabel 8-1
|
Konteks Komunikasi Tipe-tipe Komunikasi dan
Pengaruh-pengaruh Utama
Pada Transmisi
Informasi
|
||
|
Konteks
Komunikasi
|
Tipe Komunikasi
(Tingkatan
Analisa)
|
Pengaruh-pengaruh Utama pada Transmisi Informasi
|
|
Independen dari
(Tidak Tergantung kepada
organisasi)
Eksternal ke
organisasi
|
a.
Antar Pribadi
b.
Antar unit
(satuan)
kerja.
a.
Antar Organisasi
b.
Organisasi
lingkungan
|
a.Perwujudan kognitif
dari aturan aturan dan norma-norma
sosial dalam organisasi.
a.Aturan-aturan dan
norma-norma organisasional ditambah norma-
norma sosial yang
dapat diterapkan
b.Hubungan-hubungan antar
depar temen, akibat-akibat agregat pertukaran informasi
a.Hubungan-hubungan diantara organisasi
b. Komponen-komponen
lingkungan.
|
Sumber
: K.H Robert et AL, “Organizational Theory
and Organizational Communication : A Commnunication Faiture ?” Human Relation 27 (1974), halaman 515.
Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial
maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut akan
melibatkan empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi informatif
Organisasi
dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing
system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap
dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu.
Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat
melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti informasi pada dasarnya dibutuhkan
oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu
organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi
untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang
terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan
informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan
sebagainya.
2. Fungsi Regulatif
Fungsi
regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu
organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang
berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini, yaitu:
- Atasan
atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang
memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang
disampaikan. Disamping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk
memberikan instruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi
kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of authority)
supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.
Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung
pada:
- Keabsahan
pimpinan dalam penyampaikan perintah.
- Kekuatan
pimpinan dalam memberi sanksi.
- Kepercayaan
bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai
pribadi.
- Tingkat
kredibilitas pesan yang diterima bawahan.
- Berkaitan
dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya
berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian
peraturan-peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk
dilaksanakan.
3. Fungsi Persuasif
Dalam
mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa
hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak
pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi
perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan
akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering
memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
4. Fungsi Integratif
Setiap
organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat
dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi
formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter,
buletin) dan laporan kemajuan oraganisasi; juga saluran komunikasi informal
seperti perbincangan antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan
menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan
terhadap organisasi.
Ronald Adler dan George Rodman dalam buku Understanding
Human Communication, mencoba menguraikan masing-masing, fungsi dari kedua
arus komunikasi dalam organisasi tersebut sebagai berikut:
1. Downward communication, yaitu komunikasi yang
berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan
pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini
adalah:
a) Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job
instruction)
b) Penjelasan
dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job
retionnale)
c) Penyampaian
informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices)
d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja
lebih baik.
2. Upward communication, yaitu komunikasi yang
terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya.
Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:
a) Penyampaian
informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan
b) Penyampaian
informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat
diselesaikan oleh bawahan
c) Penyampaian
saran-saran perbaikan dari bawahan
d) Penyampaian
keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
3. Horizontal communication, yaitu tindak komunikasi
ini berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan
yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah:
a) Memperbaiki koordinasi tugas
b) Upaya pemecahan masalah
c) Saling berbagi informasi
d) Upaya pemecahan konflik
e) Membina hubungan melalui kegiatan
bersama.
komunikasi organisasi
Terdapat tujuh konsep kunci yaitu :
Terdapat tujuh konsep kunci yaitu :
Proses Suatu organisasi adalah suatu
sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan saling menukar pesan diantara
anggotanya. Karena gejala menciptakan dan menukar informasi ini berjalan terus
menerus tanpa henti maka dikatakan sebagai suatu proses.
Pesan adalah susunan simbol yang
penuh arti tentang orang, obyek, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan
orang lain. Dalam komunikasi organisasi kita mempelajari pertukaran pesan dalam
seluruh organisasi. Pesan dalam organisasi ini dapat dilihat menurut beberapa
klasifikasi yang berhubungan dengan :
- bahasa (verbal dan non-verbal)
- penerima
(internal dan eksternal)
- metode difusi (bagaimana pesan disebarluaskan)
- arus tujuan dari pesan (berkenaan dengan tugas-tugas
dalam organisasi, pemeliharaan organisasi dan kemanusiaan dan
inovasi/Redding dalam Goldhaber, 1986). Menurut Thayer arus tujuan dari
pesan adalah untuk memberi informasi, mengatur, membujuk dan
mengintegrasikan ).
Jaringan Organisasi terdiri dari satu
seri orang yang masing-masing menduduki posisi atau peranan tertentu dalam
organisasi. Pertukaran pesan dari orang-orang tersebut melewati suatu set jalan
kecil yang dinamakan jaringan komunikasi.
Hakikat dan luas jaringan ini dipengaruhi oleh faktor yang masing-masing mempengaruhi jaringan komunikasi yaitu :
Hakikat dan luas jaringan ini dipengaruhi oleh faktor yang masing-masing mempengaruhi jaringan komunikasi yaitu :
- hubungan peranan (formal dan informal)
- arah dan arus pesan (komunikasi kepada atasan,
komunikasi kepada bawahan dan komunikasi horizontal)
- isi
dari pesan
Keadaan saling tergantung Keadaan saling tergantung
antara satu bagaian dengan bagian lainnya telah menjadi sifat dari suatu
organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka.
Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh pada bagaian lainnya dan mungkin juga pada seluruh sistem organisasi.
Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh pada bagaian lainnya dan mungkin juga pada seluruh sistem organisasi.
Hubungan Karena organisasi merupakan
sistem kehidupan sosial, maka untuk berfungsinya bagian-bagian itu terletak
pada tangan manusia. Oleh karena itu hubungan manusia dalam organisasi
yang menfokuskan kepada tingkahlaku komunikasi dari orang yang terlibat dalam
satu hubungan perlu dipelajari.
Lingkungan Yang dimaksud dengan
lingkungan adalah semua totalitas secara fisik dan faktor sosial yang
diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem. Lingkungan ini dapat dibedakan :
- Lingkungan internal (karyawan, golongan
fungsional dari organisasi, komponen organisasi lainnya seperti tujuan,
produk/jasa dsb)
- Lingkungan eksternal ( pelanggan, kompetitor,
teknologi, dsb)
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi
yang tersedia dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi ketidakpastian
ini organisasi menciptakan dan menukar pesan di antara anggota, penelitian,
pengembangan organisasi dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks dengan
integritas yang tinggi.
Pendekatan komunikasi
organisasi
Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan tiga pendekatan, yaitu :
Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan tiga pendekatan, yaitu :
Pendekatan Makro Dalam pendekatan makro
organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan
lingkungannya. Dalam
berinteraksi, organisasi melakukan aktivitas tertentu seperti :
- Memproses
informasi dan lingkungan
- Mengadakan
identifikasi
- Melakukan
intergrasi dengan organisasi lain
- Menentukan
tujuan organisasi
Pendekatan Mikro Pendekatan ini terutama
menfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan sub-unit pada suatu organisasi.
Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara anggota
kelompok seperti :
- Komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan
- Komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam
tugas kelompok
- Komunikasi
untuk menjaga iklim organisasi
- Komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan
pekerjaan
- Komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja
dalam organisasi
Pendekatan individual berpusat pada tingkahlaku komunikasi
individual dalam organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua
pendekatan sebelumnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama
lainnya. Ada beberapa bentuk komunikasi individual :
- Berbicara
pada kelompok kerja
- Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapat
- Menulis
dan mengonsep surat
- Berdebat
untuk suatu usulan
Memahami Komunikasi dalam Organisasi
Gaya komunikasi atau communication style akan memberikan
pengetahuan kepada kita tentang bagaimana perilaku orang-orang dalam suatu
organisasi ketika mereka melaksanakan tindak berbagi informasi dan
gagasan. Sementara pada pengaruh kekuasaan dalam organisasi, kita akan
mengkaji jenis-jenis kekuasaan yang digunakan oleh orang-orang dalam tataran
manajemen sewaktu mereka mencoba mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dalam
organsasi, kita akan diajak untuk memikirkan bagaimana mendefinisikan tujuan
kita sehubungan dengan tugas dalam organisasi, bagaimana kita memilih orang
yang tepat untuk diajak kerjasama dan bagaimana kita memilih saluran yang
efektif untuk melaksanakan tugas tersebut.
Gaya Komunikasi. Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan
sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi yang digunakan
dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of intexpersonal behaviors that are used in a
given situation).
Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan
perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan
tertentu dalam situasi yang tertentu pula. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi
yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari
penerima (receiver).
Gaya Komunikasi yang akan kita pelajari adalah sbb:
1.
The Controlling style
Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai
dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur
perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan
gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way
communications.
Pihak-pihak yang memakai controlling style of communication ini,
lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk
berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian
untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan
perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut
digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikator satu arah
tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru
berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi
pandangan-pandangannya.
Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha
‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan
kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling style of
communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya
bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk
kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini,
tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons
atau tanggapan yang negatif pula.
2.
The Equalitarian style
Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan
kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan
berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang
bersifat dua arah (two-way traffic of communication).
Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka.
Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun
pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana
yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan
pengertian bersama.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini,
adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan
membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun
dalam lingkup hubungan kerja. The equalitarian style ini akan
memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam
memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil
keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi
ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan share/berbagi informasi di
antara para anggota dalam suatu organisasi.
3.
The Structuring style
Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan
pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang
harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi.
Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk
mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan
organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi
tersebut.
Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State
University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka
beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons
menjelaskan mereka bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah
orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan
tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
4.
The Dynamic style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan
agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan
pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic
style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun
supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau
merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih
baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa
karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah
yang kritis tersebut.
5.
The Relinguishing style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk
menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk
memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi
perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan
atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas,
berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas
atau pekerjaan yang dibebankannya.
6.
The Withdrawal style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak
komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini
untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun
kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.
Dalam deskripsi yang kongkrit adalah ketika seseorang mengatakan: “Saya
tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini”. Pernyataan ini bermakna
bahwa ia mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga
mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang
lain. Oleh karena itu, gaya ini tidak layak dipakai dalam konteks
komunikasi organisasi.
Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya
komunikasi lainnya: structuring, dynamic dan
relinguishing dapat digunakan secara
strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi.
Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat
POLA DAN PROSES KOMUNIKASI
Pola Komunikasi
Organisai
jelas memerlukan informasi. Dengan berkembangnya organisasi kebutuhan informasi juga bertambah. Perkembangan
komunikasi biasanya dengan fase ekstensif
di mana terjadi perkembangan cepat
informasi secara kuantitatif.
Kemudian baru tercapai fase intensif yaitu perkembangan cepat secara kualitatif. Dalam perkembangan ini ada
kemungkinan bahwa saluran komunikasi tidak dapat menampung kebutuhan akan
informasi, sehingga justru mengakibatkan kesulitan dalam koordinasi: (1)
pimpinan menghadapi beban kelebihan informasi, (2) kesulitan penyimpanan serta
pengambilan kembali informasi dari tempat penyimpanannya, (3) Gangguan dalam
proses umpan balik, (4) gangguan dalam waktu pelepasan informasi, dan (5)
pemanfaatan tak efektif jaringan komunikasi yang ada. Oleh karena itu, orang
perlu merencanakan teknologi komunikasi yang dipakai agar sesuai dengan
kebutuhan, terutama untuk memperlancar proses pengambilan keputusan. Orang
dapat menggunakan (1) sarana sederhana, (2) Mekanisasi, dan (3) otomatisasi
(komputerisasi). Tentu saja kita perlu mempertimbangkan biaya masing-masing
alternatif. Analisa manfaat dan biaya dapat diterapkan untuk pemilihan sistem komunikasi.
Proses Komunikasi
Unsur proses komunikasi ada tiga, yaitu 1) pengirim
berita, 2) sarana pengiriman berita, dan
3) penerima berita. Pengirim berita adalah orang yang dimaksud
menyampaikan sesuatu informasi kepada orang lain. Dengan menggunakan
tanda-tanda atau simbol-simbol diusahakan agar orang lain mengerti apa yang
dimaksud. Tanda yang digunakan dapat berupa kata-kata, tindakan, gerakan,
gambar atau angka, atau kombinasi.
Sarana komunikasi,
saluran serta mekanisme yang dipergunakan untuk menyalurkan tanda-tanda.
Penerima menerima tanda
yang dikirimkan dan menterjemahkan ke dalam sesuatu yang berarti bagi dirinya.
Bila tanda tersebut membingungkan dan tak jelas dan tak mempunyai arti yang
sama bagi pengirim dan penerima berita, maka tak ada komunikasi.
Dengan komunikasi deharapkan agar orang lain melakukan
kegiatan seperti apa yang kita kehendaki. Dengan komunikasi diharapkan pula
agar segala ketidakpastian menjadi pasti dan orang melakukan kegiatan tanpa
keragu-raguan. Dengan komunikasi diperoleh replikasi ingatan, sehingga orang
orang memperoleh kepastian dalam melaksanakan tindakan yang dikehendaki orang
lain. Oleh karena itu disini perlu adanya pengertian serta konsep informasi
balik dari orang yang diajak berkomunikasi. Dengan demikian kegiatan mencapai
tujuan dapat lebih efisien dan efektif.
Macam-macam Tujuan Komunikasi
1.
Komunikasi untuk kegiatan yang tak diprogram; termasuk segala percakapan
serta usaha mendengarkan apa yang dilakukan perseorangan yang tak berhubungan
dengan tujuan organisasi atau tugas pekerjaan. Misalnya saja, desas-desus, kata
burung, dan percakapan kelompok informal (Komunikasi “grapevine”).
2.
Komunikasi melalui dan menciptakan program, termasuk usaha menyesuaikan dan
mengkoordinasi program.
3.
Komunikasi yang memberikan data penerapan strategi.
4.
Komunikasi untuk menimbulkan program, dan komunikasi untuk motivasi orang
melaksanakan program.
5.
Komunikasi yang memberikan informasi tentang hasil kegiatan dan informasi
umpan balik untuk pengawasan.
Kalau digambarkan maka butir komunikasi organisasi
meliputi (1) diatas dan butir-butir (2),(3),(4) dan (5) dibawah ( Lihat gambar
9-1).
![]() |
|||||||
|
|||||||
|
|||||||
|
|||||
Gambar 8-1. Model Komunikasi
SALURAN
KOMUNIKASI FORMAL
Saluran
hirarki dasar organisasi menggambarkan sebagian besar sifat aliran komunikasi
internalnya. Saluran-saluran komunikasi formal secara umum dirancang untuk
mempermudah pertukaran-pertukaran informasi vertikal, horizontal dan diagonal.
Berikut ini akan dibahas karakteristik-karakteristik dan implikasi-implikasi
setiap aliran tersebut dalam hubungannya dengan komunikasi efektif.
Aliran Vertikal
Aliran komunikasi vertikal mencakup seluruh transaksi
yang meliputi baik aliran informasi ke bawah maupun ke atas yang terjadi antara
atasan dan bawahan dalam suatu organisasi. Transmisi informasi ke bawah
(downwar) biasanya dipandang sebagai hal yang terjadi bersamaan dengan aliran
wewenang organisasi. yang diberikan dari eselon tertinggi sampai eselon
terendah. Sebagai contoh, dalam gambar 8-2, akan ada aliran komunikasi vertikal
ke bawah dari manajer umum ke manajer produksi, kemudian ke manajer pabrik,
kepala bagian produksi, superintendent, mandor, dan akhirnya karyawan operatif.
Walaupun komunikasi ke bawah mungkin melaksanakan beberapa fungsi, secara
mendasar digunakan untuk memberi perintah dan instruksi. Katz dan Kahn mengemukakan
bahwa aliran komunikasi ke bawah mempunyai lima tujuan pokok, yaitu :
1.
Untuk memberikan pengarahan-pengarahan atau instruksi-instruksi kerja
tertentu (spesifik).
2.
Untuk memberikan informasi mengapa suatu pekerjaan harus dilaksanakan
(Rationale of job).
3.
Untuk memberikan informasi
tentang prosedur-prosedur dan praktek-praktek organisasional.
4.
Untuk memberikan umpan balik pelaksanaan kepada para karyawan (bawahan).
5.
Untuk menyajikan informasi mengenai aspek ideologi dalam membantu
organisasi menanamkan pengertian tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
[36]
Komunikasi ke bawah berupa tulisan
atau lisan (oral). Contoh komunikasi tertulis adalah memorandum, manual,
majalah, surat kabar, bulletin, dan penyebaran informasi. Beberapa contoh
komunikasi lisan yang mengalir ke bawah termasuk media pengarahan verbal /
lisan, percakapan, konfrensi, dan kontak telepon.
Secara
lebih terperinci, aliran komunikasi vertikal ke bawah mungkin terbentuk :
|
%
Rantai perintah;
%
Plakat dan papan pengumuman;
%
Majalah perusahaan;
%
Surat pada karyawan;
%
Buku petunjuk karyawan;
%
Kotak informasi;
%
Sistem pengeras suara;
|
%
Secarik kertas tanda terima gaji;
%
Desas-desus;
%
Laporan tahunan;
%
Pertemuan kelompok;
%
Serikat kerja;
%
Desas-desus.
|
![]() |
|||||
Karyawan Karyawan Karyawan
Operatif Operratif Operatif
![]() |
1 1
2 3
Komunikasi Iateral
Usaha-usaha
koordinatif, pemecahan
Masalah
dan sebagainya
Gambar 8-2. Aliran-aliran
komunikasi dalam suatu organisasi hipotesis yang
Terdiri dari
empat pabrik produksi berukuran menengah.
:
Komunikasi ke bawah : prosedur, kebijaksanaan, penugasan, tujuan,
pengarahan, dan sebagainya.
1
:
Komunikasi diagonal
2
: Masalah-masalah lini, advis staf
3
: Advis staf, Masalah-masalah lini
Gerakan
informasi ke atas (upward) melalui tingkatan-tingkatan kerja dan
secara mendasar dihubungkan dengan fungsi pengawasan. Sebagai contoh, penyampaian
data keluaran produksi ke atas adalah esensial bagi fungsi pengawasan produksi.
Disamping itu komunikasi ke atas juga melaksanakan peranan integratif dengan menyediakan
sarana-sarana penyampaian masalah-masalah yang dihadapai para karyawan. Survei
sikap, manajemen berdasarkan sasaran (management by objectives), dan
terdengarnya keluhan merupakan beberapa contoh komunikasi ke atas. Secara lebih
terperinci aliran komunikasi vertikal ke atas mungkin terbentuk :
( Kotak
tatap muka;
( Pertemuan
kelompok;
( Prosedur
pengaduan;
( Sistem
kelah;
( Daftar pertanyaan tentang semangat kerja;
( Surat
usulan;
( Pemberian
saran;
( Wawancara;
( Kebijaksanaan
pintu terbuka (open-door policy);
( Serikat
kerja;
( Desas-desus.
Aliran
horizontal ( Lateral)
Komunikasi
horizontal mencakup seluruh penyampaian informasi yang mengalir secara laterel
dalam suatu organisasi. Transmisi ini dapat dikelompokkan menurut terjadinya :
(a) diantara para karyawan dalam kelompok kerja yang sama dan (b) antara
kelompok-kelompok yang mempunyai kedudukan (status) sederajat atau antar
departemen. Sebagai contoh, dalam gambar 8-2 akan ada aliran komunikasi
horizontal dalam dan diantara unti-unit kerja seperti pemasaran, produksi,
keuangan, penelitian dan hubungan industrial, atau diantara para manajer pabrik
atau superintendent. Komunikasi ini bersifat koordinatif, karena hal ini paling
sering bersangkutan dengan aliran kerja. Karena komunikasi horizontal terutama
terjadi di antara orang-orang yang berkedudukan sederajat atau hampir sepadan,
maka cenderung tidak begitu menakutkan, lebih akurat dan lebih cepat dibanding
komunikasi vertikal.
Aliran Diagonal
Aliran
komunikasi diagonal mencakup seluruh transmisi informasi yang memotong silang
rantai organisasi. Komunikasi diagonal paling sering berbentuk interaksi antara
para manajer lini ddan para anggota staf atau unit-unit pelayanan. Dalam
masalah ini para pimpinan organisasi perlu menyadari bahwa sering terjadi
konflik dalam komunikasi lini-staf diagonal. Berbagai studi yang telah
dilakukan mengambil kesimpulan bahwa para staf mempunyai kegiatan komunikasidan
pengetahuan tentang berbagai peristiwa organisasi lebih besar dari karyawan
lini. Suatu studi yang dilakukan Davis memberikan beberapa keterangan tentang hal itu
: [37]
1.
Komunikasi merupakan fungsi utama banyak spesialis staf. Mereka secara
rutin mendapatkan data dan melaksanakan kegiatan-kegiatan, seperti penyiapan
laporan-laporan dan penyebaran pengarahan-pengarahan.
2.
Para spesialis staf biasanya mempunyai saluran-saluran komunikasi lebih
pendek ke manajemen puncak (atas), karena pada umumnya personalia staf
ditempatkan pada posisi tinggi dalam hirarki manajemen.
3.
Banyak spesialis staf harus secara teratur mendatangi berbagai departemen
suatu perusahaan untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Mobilitas ini
memungkinkan mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperoleh dan
menyebarkan informasi, sehingga dapat mengembangkan jangkauan yang lebih luas.
4.
Karena keahlian khusus, mereka, para spesialis staf biasanya lebih banyak terlibat dalam
pelaksanaan keputusan-keputusan dibanding karyawan lini.
HAMBATAN-HAMBATAN
KOMUNIKASI
Komunikasi
yang tidak efektif dapat disebabkan berbagai macam hambatan manusiawi dan
teknis yang berbeda, berikut ini akan dibahas bentuk-bentuk hambatan komunikasi
yang sering terjadi pada struktur-struktur yang kompleks. Bentuk-bentuk
hambatan tersebut dapat diklasifikasikan kedalam empat kategori : dalam diri pribadi (interpersonal), antar
pribadi (interpersonal), organisasional, dan teknologi.
Faktor-faktor hambatan dalam diri pribadi
Persepsi Selektif. Hubungan antara
persepsi dan komunikasi adalah kompleks. Seseorang akan cenderung menolak, atau
salah mengartikan informasi-informasi yang tek sesuai dengan anggapan-anggapan
atau harapan-harapan yang secara emosional dibentuk sebelumnya. Sebagai contoh,
adalah suatu kenyataan bahwa orang cenderung untuk melihat dan mendengar, hanya
apa yang dia inginkan untuk dilihat dan didengar. Lebih lanjut, penelitian
telah menunjukkan bahwa ornag-orang cenderung mencari berita-berita yang
menyenangkan atau menguntungkan dan mengabaikan yang tidak menyenangkan. Dengan
kata lain, mereka menolak atau menerima secara tepat informasi yang tidak
konsisten dengan persepsi yang telah terbentuk.
Perbedaan-perbedaan Individual dalam
Keterampilan Komunikasi. Disamping perbedaan kemampuan persepsual mereka,
orang-orang juga berbeda dalam kemampuan mereka untuk mengembangkan dan
menerapkan keterampilan-keterampilan komunikasi dasar.
Banyak orang tidak mampu mengungkapkan sesuatu secara
verbal (lisan) tetapi mampu menulis berita-berita dengan sangat jelas dan
ringkas. Orang-orang lain mungkin pembicara yang baik tetapi pendengar yang
jelek, banyak juga orang yang membaca itu, berbagai analisis terhadap bulletin,
majalah, buku pegangan karyawan, dan manual latihan perusahaan menunjukkan
bahwa banyak literatur tersebut tidak sesuai dengan tingkat kemampuan pemahaman
orang-orang yang dituju. Tampa pemahaman, tidak dapat terjadi komunikasi.
Faktor-faktor Hambatan Antar Pribadi
Iklim (suasana). Dalam suatu
organisasi , hubungan atara atasan dan bawahan terutama berasal dari perilaku
yang diterima setiap pihak dan dari cara denngan mana perilaku timbal balik ini
diinterprestasikan. Pada saat atasan dan bawahan berkomunikasi,
perasaan-perasaan yang muncul akan membatasi atau mendorong baik isi maupun
frekuensi komunikasi mereka, dan mempengaruhi cara-cara mereka berkomunikasi
satu dengan yang lain.[38] Kombinasi sikap ini membentuk suasana hubungan
antar pribadi. Kurang adanya suasana yang positif akan mengarahkan terjadinya
penolakan aliran komunikasi, bawahan memanipulasi informasi, dan tersebarnya
antagonisme dan ketidakpercayaan sebagai hasil, efektivitas kelompok dan perusahaan
akan menurun.
Kepercayaan. Proses komunikasi
adalah suatu hubungan transaksional antara pengirim dan penerima. Transfer
informasih ini berarti akan mempunyai pengaruh timbal balik pada kedua pihak
yang berinteraksi. Karakteristik pokok dari seluruh hubungan itu adalah
kepercayaan. Ketidakpercayaan dan kecurigaan dapat menyebabkan suatu pihak
bersikap defensif dan mengurangi frekuensi ekspresi yang terbuka, sehingga
mengurangi kemungkinan-kemungkinan untuk mencapai komunikasi efektif. Distorsi
informasi yang dihasilkan ketidakpercayaan ini
sering merupakan hasil sikap
bawahan yang mencoba untuk mengatasi ketidakpastian
informasi yang dimiliki yang mungkin mengancam kariernya.
Kredibilitas.
Berhubungan erat dengan kepercayaan, “kredibilitas” menunjukkan
karakteristik-karakteristik sumber informasi yang diterima. Suatu penelitian
empirik mengidentifikasikan empat unsur sumber kredibilitas, yaitu kejujuran,
keahlian atau kemampuan, dinamisme atau antusiasme, dan objektivitas atau
keterbukaan. Karakteristik-karakteristik ini tidak perlu dimiliki oleh sumber
tertentu tetapi ditentukan oleh penerima informasi. Sebagai contoh, bila
dihadapkan dengan komunikasi-komunikasi identik dari berbagai sumber yang
berbeda, para karyawan akan lebih mempercayai sumber informasi yang berasal
dari sumber yang menurut persepsi mereka paling baik, jujur, adil dan objektif.
Kesamaan Pengirim-Penerima. Pada umumnya riset mununjukkan bahwa
akurasi komunikasi antara dua komunikator secara langsung berhubungan dengan
tingkat kesamaan mereka, derajat kesamaan ini menyangkut
karakteristik-karakteristik seperti umur, jenis kelamin, ras atau suku bangsa,
intelegensia dan status ekonomi, serta faktor-faktor seperti sikap, minat,
nilai-nilai, dan kemampuan komunikator yang memandang dirinya “mirip” satu
dengan lain pada umumnya akan lebih bersedia menerima pandangan-pandangan orang
lain dan menyatakan kesepakatan bersama. Dalam lingkungan organisasi, semakin
besar derajat bersamaan antara seorang atasan dan bawahan, akan semakin menungkatkan
efektivitas komunikasi.
Faktor-faktor Hambatan Organisasi
Status.
Status seseorang dalam organisasi terutama tergantung
prestise yang berhubungan dengan posisi yang dia duduki. Pengaruh status pada
arah dan frekuensi komunikasi organisasi telah menjadi pokok bahasan banyak
studi. Kenyataan
menunjukkan bahwa :
1.
Pada umumnya ornag-orang lebih senang mengarahkan
komunikasi mereka keindividu-individu yang statusnya lebih tinggi paling tidak
ada dua alasan mengenai hal ini. Pertama, interaksi seperti dapat merupakan
cara efektif untuk memperoleh pengakuan dan prestise dari kelompoknya. Kedua,
berkomunikasi dengan atasan yang berstatus leibih tinggi dan mempunyai
kemampuan untuk memenuhi atau menghilangkan sering dipandang sebagai suatu
peningkatan kesempatan emperoleh kepuasan;
2.
Orang-orang dengan status tinggi pada umumnya lebih
banyak berkomunikasi satu dengan yang lain dari pada dengan orang-orang yang
berstatus lebih rendah;
3.
Semakin lebar perbedaan status, semakin besar
kecenderungan bahwa informasi akan mengalir dari orang-orang yang berstatus
lebih tinggi ke orang-orang yang berstatus lebih rendah dan tidak sebaliknya;
4.
Orang-orang dengan status tinggi pada umumnya lebih
mendominasi pembicaraan dibanding orang-orang yang berstatus lebih rendah ; dan
5.
Orang-orang dengan status rendah sering berupaya untuk
mendapatkan perhatian dari mereka yang berstatus lebih tinggi dengan menujukkan
respek, memuji-muji dan menyetujui pandangan mereka.
Faktor-faktor diatas menunjukkan secara jelas bahwa
status merupakan pengaruh utama terhadap proses komunikasi.
Transmisi
Hirarki.
Pembedaan hirarki merupakan aspek struktural pokok
pengembangan suatu organisasi. Sejalan dengan pertumbuhan organisasi, hirarki
dikembangkan tidak hanya untuk memudahkan pencapaian sasaran kegiatan-kegiatan
tetapi juga karena sangat diperlukan utntuk komunikasi. Informasi harus
disalurkan secara sistematik keseluruh bagian organisasi. Tetapi, walaupun
transmisi hirarki dibutuhkan, hal ini menimbulkan berbagai kesulitan komunikasi
sebagai contoh, semakin banyak tingkatan yang harus dilalui suatu informasi
(berita), semakin lama semakin lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke
tempat tujuan dan semakin kecil kemungkinan ketepatannya.
Disamping
faktor-faktor yang berkaitan dengan efisiensi maupun efektivitas aliran
informasi vertikal yang telah dibahas didepan, proses-proses individual
tertentu juga mengubah transmisi informasi hirarki. Secara ringkas,
distorsi-distorsi yang timbul dalam hal ini adalah [39]:
1.
Penyingkatan
(condensation). Penelitian menunjukkan bahwa para penerus berita
sering cenderung mengubah isi berita dengan menyampaikan hanya pokok-pokok
berita (tidak secara terperinci seperti yang mereka terima). Proses
penyingkatan mungkin terjaadi dalam bentuk pemadatan berita atau pengabaian
beberapa bagian dari berita. March dan Simon menyebut proses pengeditan ini dengan istilah uncertainly absorption
2. Closure para penerima berita yang
mendua (membandingkan) cenderung untuk melengkapinya, atau berarti menutupi
kekurangan-kekurangan informasi yang mereka transmisikan sebagai contoh, bila
suatu berita dari kantor pusat perusahaan diterima oleh kantor cabang bahwa
pimpinan akan datang minggu depan untuk inspeksi rutin, berita tersebut mungkin
disampaikan oleh penerus berita ke para staf kantor cabang bahwa Bapak Direktur
akan datang (lebih pasti) untuk melakukan inspeksi kejutan minggu depan.
3.
Pengharapan (expectation).
Kenyataan juga membuktikan bahwa penerus informasi sering membelokkan
komunikasi kearah yang sesuai dengan sikap-sikap dan pengharapan-pengharapan
mereka sendiri. Suatu berita yang mengalir ke atas atau ke bawah akan cenderung bias, karena
harus melalui berbagai penerus berita yang masing-masing mempunyai kerangka referensi
sendiri yang khas. Kerangka referensi setiap jenjang atau setiap orang bebeda
baik karena perbedaan kebutuhan, nilai-nilai dan pendapat maupun perbedaan
persyaratan.
4.
Asosiasi. Penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa bil peristiwa-peristiwa atau akibat-akibat terjadi bersama
dimasa lalu, maka peristiwa-peristiwa tersebut sering dihubungkan satu dengan
yang lain pada hari-hari berikutnya.
5.
Distorsi-distorsi ini
menyebabkan adanya perincian-perincian selektif tertentu dalam suatu berita
yang dipertahankan (dipertajam) dan perincian-perincian selektif tertentu yang
dihilangkan (diperhalus).
Ukuran kelompok. Berdasarkan penelitian, semakin besar kelompok akan
mengakibatkan turunnya lama waktu bagi para anggota untuk mengadakan
komunikasi, begitu juga dengan semakin meningkat ukuran kelompok, tingkat
akursi komunikasi sering dibawah estimasi dan komunikasi menjadi semakin sulit.
Pada suatu kelompok yang terdiri dari atas lima orang akan ada n (n-1)/2, atau
10 saluran komunikasi. Bila ukuran kelompok, akan semaikn kecil kemungkinan
tercapainya komunikasi yang memuaskan.
Kendala-kendala Ruangan. Karakteristik-karakteristik phisik
ruangan (tempat) suatu pekerjaan
dilaksanakan biasanya akan berbeda dengan tempat jenis pekerjaan lain. Ada
pekerjaan yang memerlukan lokasi tunggal untuk perpindahan operator ataupun
bahan. Persyaratan-persyaratan ruangan seperti ini akan membatasi kualitas dan
kuantitas komunikasi antara para anggota kelompok kerja. Semakin jauh jarak
antar lokasi kerja, akan semakin berkurang arus komunikasi yang terjadi.
Faktor-faktor Hambatan Teknologi
Bahasa dan pengertian. Salah satu hambatan terbesar terhadap
akurasi komunikasi adalah anggapan bahwa kata-kata yang sama mengandung
pengertian yang sama. Karena bahasa seperti matematik, merupakn suatu sistem
simbol, kata-kata itu sendiri tidak mempunyai pengertian. Kata-kata hanyalah
berbagai label yang kita gunakan untuk menggambarkan pandangan pribadi kita
sendiri terhadap realitis. Pengertian seseorang pada saat mendengar suatu
berita secara khas ditentukan oleh pengalaman sebelumnya, kepentingan
individual, latar belakang sosial, dan sebagainya. Berdasarkan alasan ini,
kata-kata yang digunakan dalam suatu berita jarang mempunyai pengertian yang
tepat sama baik bagi pengrim dengan penerima berita maupun bagi pengirim lain yang
berbeda. Sebagai contoh, perintah atasan untuk mengerjakan “secepat mungkin” bisa berarti satu
jam, satu hari atau bahkan satu bulan.
Isyarat-isyarat Nonverbal. Pada saat orang berbicara,
kata-katanya sering diikuti oleh isyarat-isyarat nonverbal, seperti gerakan
tangan, ekspresi wajah, postur tubuh, gerakan tubuh, nadan suara, dan perilaku
visual lainnya. Stimulasi nonverbal ini adalah berita-berita “biasa” yang
membantu penyampaian pengertian secara akurat. Sebagai contoh, derajat kontak mata
diantara para komunikator mungkin menunjukkan kesukaan, minat, keterlibatan dan
agresi. Begitu juga, gerakan-gerakan tubuh (pindah posisi, gerakan tangan,
anggukan, atau gelengan kepala, dan lain-lain) mungkin menyatakan kemarahan, keinginan atau perasaan
santai. Penggunaan isyarat0isyarat nonverbal tertentu yang tidak tepat (bahkan
mungkin bersifat kontradiktif) dan tidak konsisten akan menghambat komunikasi.
Efektivitas saluran. Efektivitas suatu saluran komunikasi
sangat tergantung pada bentuk dan tujuan informasi yang disampaikan serta
keadaan masing-masing pihak yang terlibat. Saluran-saluran tertulis (memo,
bagan-bagan atau diahram, bulletin, berita perusahaan, dan lain-lain) lebih
efektif untuk menyampaikan materi yang panjang dan terperinci. Komunikasi
tertulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memahami dengan tingkat
kecepatannya dan pemahamannya sendiri. Komunikasi juga memungkinkan
gagasan-gagasan disampaikan secara lebih luas dan dapat disimpan untuk
digunakan dalam pengambilam keputusan-keputusan dimasa mendatang.
Saluran-saluran
lisan (moral), seperti diskusi tatap muka, percakapan telepon, ceramah atau
konfrensi, terutama sangat cocok untuk komunikasi yang memerlukan penterjemahan
dan penguraian agar dimengerti oleh para penerima dari tingkatan lebih bawah
dan mempunyai berbagai orientasi dan keterampilan berbahasa yang berbeda-beda.
Saluran lisan sangat efektif bila transmisi informasi secara cepat dan
tanggapan langsung diinginkan, dan pada umumnya lebih tepat bagi penanganan hal-hal
yang sensitif dan rahasia. Disamping itu, berbagai perasaan dan gagasan sering
lebih akurat dikomunikasikan secara lisan daripada tulisan, karena diskusi
memberikan kesempatan maksimum untuk interaksi baik dengan verbal maupun
isyarat-isyarat nonverbal.
Bagaimanapun juga, saluran-saluran meulti-media
(tulisan-lisan, tulisan-visual, lisan-visual, tulisan-oral-visual) mungkin
paling sesuai dalam situasi-situasi khusus seperti penyelesaian
perselisihan-perselisihan kerja, penyampaian perubahan-perubahan kebijaksanaan
pokok perusahaan, dan teguran atas penyimpangan-penyimpangan kerja.
“Kebanjiran” Informasi. Orang mempunyai kemampuan batas dalam
menerima atau menyerap sejumlah informasi pada saat tertentu. Kebanjiran
informasi akan mempengaruhi efektivitas kerja kelompok dan mengakibatkan
berbagai bias dalam komunikasi. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk
menangani kelebihan informasi tersebut adalah sebagai berikut :
1)
Penyaringan (filtering), setiap informasi yang masuk, yaitu denganmenegaskan seseorang
untuk menyaring informasi agar tipe informasi tertentu (yang relevan) saja yang
disampaikan.
2) Pengertian (queuing), yaitu
pemrosesan berita-berita atas dasar prioritas. Berita-berita yang diprioritaskan rendah ditunda
atau dijadwalkan kembali.
3)
Penetapan saluran ganda, yaitu penambahan saluran-saluran masukan atau keluaran,
seperti penambahan saluran staf khusus
atau penciptaan saluran informasi paralel bila wewenang disentralisasikan.
PENINGKATAN
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI
Peningkatan efektivitas akan
semakin memudahkan pertukaran informasi yang relevan dengan pekerjaan, dan pada
gilirannya akan memperbaiki pelaksanaan kerja organisasi, berikut akan dibahas
berbagai metode atau teknik dengan ana para manajer dapat meningkatkan
efektivitas komunikasi. Teknik-teknik ini pada dasarnya merupakan cara-cara
untuk mengatasi hambatan-hambatan komunikasi diatas.
Audit Komunikasi
Perkembangan
organisasi-organisasi mengandung implikasi peningkatan kebutuhan akan perbaikan
proses komunikasinya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa organisasi-organisai
tersebut, seperti individu-individu, adalah berbeda satu dengan yang lain.
Setiap organisasi adalah produk sejarah, teknologi, personalia dan industrinya
sendiri. Dan sebagai akibat keunikan ini, organisasi-organisasi mempunyai
masalah komunikasi-komunikasi khusus. Salah satu metode untuk menangani
masalah-masalah khusus itu adalah audit komunikasi, yang dirancang untuk
memeriksa secara sistematik dan menyeluruh proses-proses komunikasi dalam suatu
organisasi. Metode audit komunikasi akan memudahkan organisasi dalam menentukan
apakah masalah-masalah komunikasi saling berhubungan atau tidak. Metode ini
akan membantu memecahkan masalah organisai secara keseluruhan bukan tiap-tiap
masalah secara individual. Audit komunikasi menggunakan prosedur-prosedur
seperti wawancara mendalam, teknik-teknik peristiwa kritis, daftar pertanyaan
survei, catatan komunikasi, dan analisis network dalam kerangka perusahaan
secara keseluruhan. Audit ini secara khusus akan mengungkapkan maslaah-masalah
seperti tidak memadainya saluran komunikasi, ketepatan dan kelengkapan informasi yang ditransmisikan, dan sifat
hubungan-hubungan komunikasi.
Teknik-teknik Peningkatan Efektivitas Komunikasi
Perbaikan-perbaikan
komunikasi dapat dilakukan pada bidang-bidang iklim komunikasi menyeluruh,
komunikasi ke atas dan ke bawah, dan saluran komunikasi internal dan eksternal.
Berbagai teknik yang telah dikembangkan untuk mengimplementasikan
perbaikan-perbaikan tersebut adalah :
1.
Penempatan saluran-saluran pribadi yang memungkinkan
para karyawan untuk meningkatkan pertanyaan atau tanggapan tanpa menyebutkan
nama terhadap setiap masalah (dari penugasan pekerjaan sampai promosi) baik
melalui nomor telepon khusus maupun lewat kotak khusus yang disediakan. Tanggapan-tanggapan
dapat dikirim langsung kepada para karyawan
atau dibuat dalam publikasi perusahaan.
2.
Penetapan Dewan Khusus yang terdiri dari para manajer dan karyawan operatif,
untuk memberikan kesempatan kepada mereka secara teratur (periodik) dan
bersama-sama membahsa berbagai masalah dengan perhatian timbal balik. Dewan ini
pada umumnya mempunyai agenda formal yang disiapkan bersama oleh manajemen dan
karyawan.
3.
Penyelenggaraan pertemun-pertemuan tahunan karyawan yang dilakukan secara teratur dan ajeg. Dalam pertemuan
macam ini, manajer dapat menjelaskan rencana-rencana perusahaan diwaktu yang
akan datang, bagi organisasi yang mempunyai banyak cabang yang tersebar secara
geografis, teknik ini akan menghemat biaya dan waktu.
4.
Pembentukan tim-tim tugas dan manajemen untuk
menangani masalah-masalah tenaga kerja tertentu yang berorientasi tinggi. Tim
ini biasanya terdiri dari orang-orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk
melakukan penyelidikan dan melaporkannya kepada manajemen. Masalah-masalah yang
ditangani antara lain masalah hubungan manajemen-karyawan, scheduling kerja,
dan konflik-konflik antara departemen.
5.
Pembentukan tim-tim manajemen antar departemen. Tim-tim ini dirancang untuk memudahkan komunikasi
horizontal dan bertemu secara teratur untuk mengkoordinasikan operasi-operasi
antar departemen. Kelompok-kelompok penunjang ini, yang sering disebut tim-tim
kegiatan pengkoordinasian, pada umumnya berguna untuk mendorong partisipasi dan
pemecahan masalah-masalah pribadi yang sensitif karena, bersifat orang ke
orang.
Penggunaan Umpan Balik
Umpan
balik mekanisme esensial peningkatan akurasi komunikasi organisasional.
Komunikasi dua arah ini tidak hanya lebih akurat dibanding komunikasi satu arah
tetapi juga lebih memuaskan bagi para partisipan.
Umpan balik muncul dari
berbagai sumber dan menyatakan dengan berbagai cara.Komentar dan komunikasi
nonverbal rekan sekerja, klien atau barangkali bawahan dapat merupakan sumber
umpan balik. Sumber-sumber lain mencakup penilaian prestasi kerja, promosi, dan
pernghargaan bahkan evaluasi pribadi atas perasaan dan gagasan-gagasan sendiri.
Penting disadari bahwa umpan balik itu sendiri adalah komunikasi, sehingga juga
merupakan subjek hambatan-hambatan komunikasi. Oleh karena itu, dalam
memerankan sebagai penerima agar memproleh jaminan bahwa komunikasinya telah
diterima dan diinterprestasikan secara akurat. Sebagai contoh, setelah
menjelaskan penugasan suatu pekerjaan, manajer dapat bertanya, “Apakah ada
pertanyaa?” atau “Apakah segala sesuatu sudah jelas?” Satu hal yang harus
diingat adalah bahwa pendekatan seperti itu akan berguna hanya dalam
contoh-contoh dimana bahawan menyadari bahwa dirinya telah menginterpretasikan
berita secara tepat. Pendekatan yang lebih langsung, manajer meminta bawahan
utnuk mengulangi petunjuk penugasan.
Pengembangan Sistem Informasi Manajemen
Agar
supaya pimpinan tidak selalu harus menghubungi kelompok-kelompok maupun
perorangan untuk menyampaikan agar dilaksanakan oleh semua pihak, perlulah
diciptakan dikembangkan jaringan komunikasi yang baik. Dengan adanya jaringan
ini diharapkan tercipta pula sistem informasi manajemen yang baik pula.
Sistem
informasi diciptakan berdasarkan penelaahan situasi lingkungan. Dalam hal ini, kita perlu mengidentifikasi kesempatan
atau resiko berusaha. Selanjutnya, kekuatan dan kelemahan perusahaan dikaji
secara bersama. Hal ini merupakan fase mawas diri perusahaan terhadap hal-hal
yang positif dan negatif yang berada dalam perusahaan yang meliputi fungsi
manajemen dan proses proses administrasi serat akuntansi. Dengan adanya
evaluasi terhadap lingkungan serta kekuatan dan kelemahan perusahaan ditentukan
tujuan, strategi, kebijaksanaan serta
taktik perusahaan. Segala sesuatunya diberi wadah dalam suatu organisasi
dengan sistem perencanaan, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan serta
pembagian lebih lanjut tugas-tugas kepada para anggota organisasi.
Dengan telah ditentukan keadaan lingkungan dan
kekuatan serta kelemahan perusahaan yang semuanya merupakan penentu faktor
kesuksesan perusahaan, dan dengan adanya tujuan perusahaan serta ditentukannya
tugas yang perlu dilakukan, jelas bahwa hal ini semua perlu dikongkritkan dalam
proses perencanaan manajemen, pengawasan manajemen setra pengawasan
operasional.
Kongkritisasi proses
manajemen ini menentukan karakteristik kebutuhan akan informasi untuk
pegambilan keputusan :
1.
Data atau informasi yang dapat dikuantifikasi
maupun yang tidak dapat dikuantifikasi.
2.
Data atau informasi yang dapat maupun tak dapat dikomputerisasikan.
3.
Data atau informasi untuk perencanaan maupun untuk
pengawasan ; informasi untuk perencanaan meliputi informasi lingkungan,
informasi persaingan dan informasi internal, sedang informasi untuk pengawasan
meliputi informasi pengawasan persediaan, pemasaran, produksi, pembelanjaan,
personalia, biaya, kualitas dan lain-lain.
[35] James G.March
dan Herbert A.Simon, Organization, John Wiley and Sons, Inc, NV, Halaman 6
[36] D.Katz dan R.l
Kahn, The Social Psychology of Organization, edisi kedua, John Wiley &
Sons, New York, 1978,halaman 440
[37] K.Davis, “Management Communication and the
Grapevine”, Harvard Business Review 31,no.5,
halaman 43-49..
[38] F.M Jablin,
“Superior-Subordinate Communication The State of the Art”, Physchologycal
Bulletyn 86 (1997), halaman 1201-1222



Tidak ada komentar:
Posting Komentar