B A B VII
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Analisis masalah dan
pengambilan keputusan.
A
|
nalisis masalah dan pengambilan keputusan merupakan kegiatan pimpinan
yang dapat kita jumpai pada semua tingkatan, dan semua bidang manajemen.
Kegiatan analisis masalah dan hasil pemecahan masalah termasuk sebagian besar
pada bidang teknik‑teknik kuantitatif.
Namun demikian pengambilan keputusan bagi sesuatu pemecahan masalah sering
tidak selaras dengan ketentuan yang ada, yang pada umumnya didasarkan pada pendapat
dan pertimbangan daripada teknik perilaku (behavioral
technique).
Yang dimaksud dengan
suatu masalah ialah tidak adanya keseimbangan yang harus ("should"
atau "das sollen") dilakukan dengan adanya ("is" atau
"das sein") sekarang. Dalam bahasa statistik yang dimaksud dengan
masalah ialah deviasi antara standar pelaksanaan dengan pelaksanaan yang
berbeda. Sekalipun demikian perlu disadari bahwa tidak semua perbedaan itu
suatu masalah, seperti halnya deviasi pelaksanaan kadang‑kadang hanya suatu
simptom (symptoms), yang mungkin
berkembang menjadi suatu masalah nya : pengurangan produktivitas, bertambahnya
pergantian pegawai, kurangnya kerja sama, tumpang tindihnya kewenangan dan
sebagainya.
Kesukaran yang pokok
daripada pengambilan keputusan (decision
maker) dan pelaksanaan tugas pokoknya ialah menentukan mana yang menjadi
masalah yang utama (core problems) dan mana yang menjadi masalah yang kedua (secondary problem). Misalnya ditentukan
bahwa masalah utama yang menjadi
penghambat kelancaran pelaksanaan tugas ialah kurangnya sumber keuangan. Akan
tetapi setelah diselidiki lebih mendalam ternyata karena kurangnya
kebijaksanaan yang baik terhadap sistem alokasi dana. Berdasarkan atas kasus
tersebut maka kurangnya sumber keuangan menjadi masalah kedua, sedangkan kurang
baiknya kebijaksanaan dalam sistem alokasi dana ini menjadi masalah utama.
Pendekatan terhadap
masalah dan pengambilan keputusan terdapat dalam 3 langkah pokok:
1. Analisa Masalah, yaitu penemuan daripada masalah;
2. Pemecahan Masalah, yaitu penemuan pemecahan daripada
masalah;
LAN
Pengambilan keputusan
yang efektif memerlukan pemilihan yang
rasional dalam tindakannya.. Mengapa harus rasional, ialah karena
seseorang berpikir atau memutuskan secara rasional juga. Hal ini terutama yang
dimaksudkan adalah dalam hal pemecahan masalah. Masalah sering diartikan
sebagai suatu hal yang kabur, tidak berketentuan atau tidak jelas. Misalnya
bila seseorang mempunyai tujuan yang kabur, tidak berketentuan atau tidak jelas
dalam suatu kedaan, sehingga tidak akan ada masalah dan tidak perlu adanya
keputusan mengenai hal itu. Oleh karena itu kita perlu mengetahui keadaan
tertentu itu secara jelas, sebelum kita mengatakan bahwa orang telah bertindak
dan memutuskan secara rasional. Pertama‑tama
kita harus mencoba mendapatkan beberapa sasaran, yang tidak dapat dicapai tanpa
tindakan yang positif. Kedua, kita
harus jelas mengartikan sasaran yang dapat dicapai dalam keadaan yang demikian
dan dengan keterbatasannya. Ketiga,
kita harus mempunyai informasi dan kemampuan untuk menganalisa dan menilai
alternatif dalam usaha mendapatkan sasaran. Keempat,
kita harus mempunyai kehendak yang sungguh‑sungguh dengan pemilihan alternatif
yang dapat memuaskan pencapaian sasaran sebaik‑baiknya.
Rasionalitas yang
sempurna jarang dapat dicapai, terutama dalam bidang manajemen. Hal ini
disebabkan : Pertama: karena tidak
ada keputusan untuk masa yang lampau, sebab keputusan selalu harus menjangkau
waktu yang akan datang, dan keadaan waktu yang akan datang selalu berubah‑ubah.
Kedua, karena semua alternatif yang
harus diikuti untuk mencapai sasaran itu sukar dapat dipertanggung jawabkan.
Hal ini dapat dimengerti, apabila pengambilan keputusan itu menyangkut hal‑hal
atau sesuatu yang belum pernah dilakukan
sebelumnya. Selanjutnya dapat dijelaskan di sini, bahwa tidak semua
alternatif itu dapat dianalisis, bahkan walau dengan menggunakan teknik
analisis baru dan fasilitas komputer sekalipun.
C. Definisi Keputusan
Yang
dimaksud dengan keputusan (decision)
menurut Mc. Farland ialah:
"A decision is an act
of choice wherein an executive forms a conclusion
about what must not be done
in a given situation"
(Keputusan ialah suatu
tindakan pemilihan dimana pimpinan
menentukan suatu kesimpul‑an tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan
salam suatu situasi yang tertentu).
Keputusan
ialah suatu perbuatan (sikap) pemilihan dari pada sejumlah kemungkinan alternatif
dan sejumlah alternatif tersebut tidak harus dipilih semua, tetapi dipilih beberapa saja, atau dipilih
satu saja.
Keputusan ini dinyatakan dalam suatu bentuk kata‑kata yang
dirumuskan dalam suatu peraturan, perintah instruksi, kebijaksanaan dan dalam
bentuk apa saja yang dikehendaki pimpinan.
Keputusan tersebut mungkin juga dinyatakan dalam bentuk suatu
sikap atau perbuatan atau dalam bentuk lain.
Di dalam suatu
organisasi Pemerintah baik dalam bidang Militer/Sipil pengambilan keputusan ada
pada Pimpinan Pemerintah, baik Pimpinan atas sampai pimpinan bawah. misalnya :
Keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa pegawai negeri/militer dilarang
memasuki tempat‑tempat perjudian, kelab
malam, dan sebagainya.
D. CIri‑ciri Keputusan
(Characteristics of decision).
Ciri‑ciri keputusan dapat diuraikan dalam :
1. Proses keputusan.
2. Konsep ikatan.
3. Penilaian (evaluation).
4. Prilaku dengan maksud/tujuan tertentu.
1. Proses Keputusan
Keputusan adalah suatu
proses yang terus menerus (continue), sebab kalau tidak adanya suatu proses
yang berkesinambungan bearti tidak adanya hubungan dengan keputusan tersebut.
Apabila tidak ada tindakan lebih lanjut maka keputusan itu tidak mempunyai
arti.
Sifat daripada
pengambilan keputusan ini dapat dipertimbangkan dengan faktor waktu yang dapat
dibagi menjadi :
a. Pertimbangan waktu yang lampau, di mana masalah itu timbul dan
informasi dapat dikumpulkan.
b. Waktu sekarang di mana keputusan itu dibuat.
c. Waktu yang akan datang di mana keputusan dilaksanakan, dan diadakan
penilaian.
Selanjutnya perlu
diketahui bahwa keputusan itu adalah bagian/rangkaian daripada keputusan yang
lebih luas, yang dilaksanakan melalui suatu rangkaian hubungan, dan ber‑tambahnya
keputusan‑keputusan lebih lanjut.
Rangkaian keputusan
tersebut diambil oleh sejumlah individu yang berbeda. Faktor waktu ditambah
dengan rangkaian sifat‑sifat adalah merupakan suatu komponen daripada proses,
yang merupakan dasar daripada pengambilan keputusan.
Prinsip‑prinsip
daripada keputusan (principles of decision)
juga dikenal sebagai suatu unsur dalam proses perencanaan.
2. Konsep Ikatan
Kalau suatu keputusan
menyangkut sejumlah besar orang‑orang, maka hal yang penting adalah kemampuan
untuk menghadapi reaksi dan menyesuaikan perbedaan‑perbedaan dengan kedua belah
pihak itu.
Sebagian besar daripada
usaha itu mengarah kepada sesuatu keputusan pokok, dan dari keputusan pokok ini mengarah ke
suatu keputusan yang lebih khusus. Oleh
sebab itu keputusan harus mengarah kepada sesuatu yang sangat penting (relevance), harus teliti (accurate),
hati‑hati dan akhirnya keputusan tersebut harus dapat dipeertanggung jawabkan
dan harus pula dibenarkan.
Hasil daripada syarat‑syarat
yang telah ditentukan dalam keputusan yang baik dapat digambarkan sebagai suatu
kesimpulan: keputusan itu akan sukses apabila menimbulkan suatu ikatan antara
pengambil keputusan dengan keputusan‑nya. Berhasil atau tidaknya suatu
organisasi disebabkan karena cara bekerjanya keputusan itu sendiri. Ikatan akan
timbul karena orang‑orang di dalam organisasi berusaha untuk menyesuaikan dan
melaksanakan keputusan itu.
Keputusan itu bersifat
berkesinambungan karena adanya unsur dinamis dan pengharapan‑pengharapan
daripada orang‑orang yang ada di dalam organisasi itu. Keputusan itu juga
sering menimbulkan perubahan antara satu
bidang yang akan mempengaruhi terhadap bidang lain. Misalnya : Suatu ke‑putusan
kenaikan harga bensin akan mempengaruhi biaya angkutan/transport.
3. Penilaian
Faktor penilaian di dalam pengambilan keputusan dapat
dibedakan atas 2 hal :
a.
Pimpinan (pengambil keputusan) menghadapi suatu pertanyaan pilihan antara 2
atau lebih alternatif.
b. Masalah
daripada hasil keputusan itu sendiri yang telah diambil.
Pemilihan daripada pengambil
keputusan (pimpinan) tidak atas dasar pertimbangan, tetapi atas dasar beberapa
alternatif yang oleh pengambil keputusan dianggap penting. Adapun yang
merupakan pertimbangan pokok bagi Pimpinan dalam pengambilan keputusan tidak hanya didasarkan kepada pribadinya,
pengalamannya, pengabdiannya dan kecakapannya, tetapi sebagai unsur yang
penting ialah pertimbangan dari orang‑orang yang membantunya (sifatnya) dalam
memberikan saran‑sarannya.
Dengan demikian maka terdapat dua unsur yang mempengaruhi
terhadap keputusan itu yaitu :
a. Kepentingan pribadinya, dan
b. Kepentingan organisasi yang akan bersama‑sama
menjadi pertimbangan, sekalipun dua faktor penilaian itu sangat kompleks.
Dalam menghadapi masalah ini
Pimpinan harus mengadakan penilaian daripada keputusan‑keputusan yang lampau
dan mengadakan penilaian pula terhadap hal‑hal yang relelvan dalam waktu yang
sekarang ini, dan meneliti akibat yang akan timbul dalam waktu yang akan
datang.
4. Prilaku dengan maksud
tujuan tertentu
Setiap penilaian dalam
pemilihan alternatif tersebut di atas harus dibandingkan satu sama lain dengan
hasil daripada pemilihan yang diharapkan dari salah satu alternatif yang
penting, yaitu yang berhubungan dengan maksud
dan tujuan organisasi, baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek.
Maksud dan tujuan
organisasi, merupakan suatu standar untuk mengadakan penilaian daripada
kemungkinan hasil tindakan‑tindakan yang berbeda‑beda. Oleh karena itu maka
tujuan organisasi adalah bersifat dominan (terkuat), yang dapat dihubungkan
dengan tujuan pribadi, secara sadar maupun tidak sadar bagi pimpinannya.
Jelasnya, prilaku dengan maksud/tujuan untuk mencapai tujuan organisasi
itu adalah merupakan suatu pertimbangan yang pokok dalam pengambilan keputusan.
E Tipe daripada keputusan
Tipe daripada keputusan dapat
dibagi dalam 3 bagian yaitu:
1. Keputusan kelompok/Organisasi.
2. Keputusan Pribadi
3. Keputusan Dasar.
1. Keputusan
kelompok/Organisasi.
Yang dimaksud dengan
keputusan kelompok/Organisasi ialah dimana seseorang mempunyai peranan sebagai
anggota dari kelompok/organisasi dan pimpinan bertindak sebagai pejabat
pelaksana. Keputusan kelompok/organisasi dapat juga didelegasikan kepada orang
lain. Mereka biasanya membantu dan mengerjakan
keputusan‑keputusan yang telah ditentukan oleh pimpinan, dan merupakan
suatu mata rantai daripada sikap perbuatan untuk melaksanakan sikap kelompok/
organisasi.
Keputusan
kelompok/organisasi dibagi dalam bentuk:
a. Keputusan Pokok dan
b. Keputusan Pelaksanaan.
a. Keputusan Pokok
Keputusan pokok memerlukan suatu
kesadaran yang dalam, dengan maksud agar supaya pelaksanaannya bisa mencapai
tujuan dan mempunyai pengaruh besar dan luas terhadap ke‑giatan
kelompok/organisasi itu.
b. Keputusan Pelaksanaan
Keputusan pelaksanaan hanyalah mengisyaratkan suatu pelaksanaan
pekerjaan yang mempunyai pengaruh relatif kecil, yang mempunyai bentuk rutin
dan secara sistematis hanya mempunyai pengaruh kecil terhadap kegiatan kelompok
organisasi.
Adapun yang membuat
keputusan‑keputusan pokok (major
decision) adalah pimpinan atas, sedangkan yang membuat keputusan
pelaksanaan (minor decision) adalah
pimpinan tingkat bawah yang menyangkut pekerjaan‑pekerjaan rutin yang bersifat
repetative yang harus diselesaikan secara cepat dan berkesinambungan. Misalnya:
Sekretaris Jenderal suatu Departemen membuat keputusan untuk mengadakan rehab‑ilitasi
Gedung Kantor, maka yang mengerjakan keputusan pelaksanaannya ialah Kepala Biro
beserta stafnya untuk merencanakan anggarannya, dan menunjuk penanggung
jawabnya untuk melaksanakan yang berhubungan dengan rehabilitasi kantor
tersebut. Jadi sudah tidak perlu menanyakan lagi kepada pembuat keputusan pokok
(Sekretaris Jenderal yang bersangkutan ).
2. Keputusan Pribadi
Keputusan
pribadi adalah keputusan yang dipertanggung‑jawabkan kepada individu sebagai
pribadi, sekalipun sebagai anggota dari organisasi. Sebagai orang yang harus
melak‑sanakan pekerjaan itu ia bisa memilih banyak hal yang berhubungan
tindakannya daripada tanggung jawabnya. Sekalipun demikian keputusan tersebut
mensyaratkan tindakan oleh dirinya sendiri atau dengan kebijaksanaannya
sendiri, dan keputusan pribadi ini tidak dapat didelegasi‑kan dan biasanya
tidak menyangkut prilaku organisasi yang merupakan bagian daripada keseluruhan,
sekalipun keputusan ini mempunyai masalah yang berhubungan dengan organisasi.
Hal ini mungkin sebagai suatu usaha untuk memperoleh efisiensi dan efektivitas.
Misalnya: kalau suatu pekjerjaan belum selesai dalam waktu yang telah
ditentukan maka Kepala itu bisa mengambil keputusan sendiri, umpama: pekerjaan
harus dilembur.
Suatu
keputusan pribadi akan berpengaruh terhadap keputusan organisasi. Misalnya:
Apabila seorang Kepala suatu oraganisasi memutuskan untuk mengundurkan diri,
maka pengganti Kepala tersebut merupakan masalah organisasi.
3. Keputusan Dasar
Keputusan dasar ialah merupakan keputusan oraganisasi yang sangat
penting dan ini dianggap sebagai bentuk khusus daripada keputusan pokok.
Ciri‑ciri daripada Keputusan Dasar itu adalah sebagai berikut :
a. Mempunyai ikatan jangka lama;
b. Yang menyangkut pengeluaran daripada anggaran;
c. Yang menyangkut kesejahteraan pokok daripada
organisasi.
Sebagai misal
daripada Keputusan Dasar adalah: menentukan letak Kantor. Letak Kantor ini
mempunyai pengaruh terhadap pemasaran, fasilitas transpor, langganan,
komunikasi, dan sebagainya. Keputusan Dasar ini penting, karena merupakan suatu
dasar untuk proses pengambilan kepuusan selanjutnya akan menjadi baik.
Sekalipun mungkin juga keputusan selanjutnya (keputusan pelengkapnya) akan
tidak baik, namun keputusan dasarnya sudah diuasahakan dengan baik.
F. Langkah‑langkah/tahap‑tahap pokok dalam pengambilan
keputusan.
1. Menentukan
diagnosa dari masalah yang sebenarnya (Diagnose the problem properly);
2. Pikirkan satu
atau lebih pemecahan yang baik (conceive of one or more good solution);
3. Proyeksikan
dan bandingkan konsekwensi daripada alternatif itu(Project and compare the
consequences of such alternative);
4. Berilah
penilaian perbedaan dari sejumlah
konsekwensi itu dan pilihlah langkah tindakannya (Evaluate these different sets of consequences and select a course of
action).
Diagnosa
Bila seorang Dokter
memeriksa penderita, dan berdasar‑kan atas keluhannya ia berkesimpulan bahwa
seorang menderita sesuatu penyakit. Kesimpulan bahwa seseorang menderita suatu
penyakit, ini dinamakan diagnosa. Setelah ditemukan diagnosanya baru diputuskan
pengobatannya (therapinya).
Untuk menentukan
diagnosa pada bidang administrasi/ managemen, pimpinan harus mengetahui dengan
jelas terlebih dahulu "masalahnya" (problems). Masalah ini menimbulkan hambatan‑hambatan
atau kesulitan‑kesulitan, yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian baik pada
waktu sekarang maupun untuk waktu yang akan datang. Masalah itu dapat
ditimbulkan dari dalam organisasi itu sendiri (internal poroblems) atau
ditimbulkan dari luar (external problems).
a. Pertimbangan hasil yang akan dicapai
Apabila pimpinan
dihadapkan pada suatu deretan fakta‑fakta dab pandangannya untuk waktu yang akan
datang, maka ia harus dapat menyimpulkan satu masalah sebagai masalah baru dari
bermacam‑macam deretan fakta, yang akan mem‑pengaruhi tujuan organisasi, yaitu:
"Hasil yang akan dicapai". Misalnya: Menteri Penertiban aparatur
negara (Menpan) dihadapkan kepada deretan fakta‑fakta masalah tentang
keterlambatan pensiun pegawain negeri, uang pensiun diterima sangat lambat,
karena belum ada surat keputusannya. Untuk mengurus SK ini harus dikeluarkan
uang untuk pergi ke Jakarta, dan seterusnya.
Berdasarkan atas fakta‑fakta
dari masalah itu, Menpan menyimpulkan "Perbaikan dan
penyempurnaan Administrasi pensiun beserta Aparaturnya". Ini adalah suatu
pemecahan yang menimbulkan "masalah baru", yang mempunyai tujuan/ sasaran baru
b. Pengenalan dari pada rintangan/hambatan.
DIagnosa yang baik
tidak hanya melihat terhadap pencapaian hasil yang dikehendaki, tetapi harus
mengenal terhadap rintangan‑rintangan/halangan‑halangan tersebut, agar
tujuannya dapat dicapai tanpa rintangan/halangan.
Bedanya halangan/rintangan
yang pokok (key obstacle) dan simtom (symtoms) ialah: Bila halangan/rintangan
kalau telah dipecahkan akan menjadi baik/sempurna, dan simtom kalau diubah,
persoalannya akan tetap. Misalnya Dokter tidak mengobati orang yang mempunyai
temperamen tinggi, tetapi sekedar untuk mengetahuinya.
c. Terbatasnya kemampuan di dalam pemecahan masalah.
Terbatasnya sumber‑sumber
yang tersedia, misalnya: Biaya (kapital), tnaga, alat‑alat dan materiil. Di
samping terbatasnya sumber‑sumber juga waktu.
Kebijaksanaan organisasi,
seperti halnya: Program kerja, rencana kerja, dan sebagainya harus disesuaikan
dengan terbatasnya sumber‑sumber dan waktu yang tersedia. Memproyeksikan
konsekwensi‑konsekwensi daripada berbagai alternatif membuat kita untuk
mengadakan perbaikan (revisi) terhadap tujuan atau membatasinya.
Pikirkan/rencanakan
alternatif‑alternatif yang baik
Apabila suatu
masalah telah ditentukan, maka peng‑ambil
keputusan (decision maker) harus mendapatkan ke‑mungkinan pemecahannya. Kadang‑kadang
alternatif yang baik dengan mudah diketahui, berdasarkan pengalaman‑pengalaman
yang lampau, yaitu praktek pihak yang berkepentingan, atau para relasi (langganan) dan sebagainya,
sebagai sumber yang bermanfaat daripada ideanya.
Kenyataan menunjukkan
bahwa pemecahan suatu masalah adalah hasil daripada saran‑saran, dari salah
satu pihak yang berkepentingan.
a. Diperkirakan kreativitas.
Pada
pokoknya pemikiran daripada pemecahan masalah terjadi di banyak tempat dan
banyak tingkatan‑tingkatan di mana kreativitas harus merupakan bagian integral dari sejumlah keputusan
management. Dengan perubahan yang cepat di dalam masyarakat dan kemajuan
teknologi, pemikiran daripada pemilihan alternatif yang bersifat kreatif
merupakan hal yang penting daripada keadaan waktu yang lampau.
b.
Penelitian
pribadi yang mempunyai cita‑cita yang luhur.
Seseorang yang
mempunyai kreasi menginginkan suatu cita‑cita yang luhur, dengan menggambarkan
suatu perubahan yang baru. Orang yang mempunyai kreasi ini biasanya dengan
kerja keras sambil belajar. Ia mempunyai perhatian yang aktif dalam bermacam‑macam
persoalan, terutama di dalam berbagai segi masalah yang dihadapinya. Ia
mempunyai kemampuan dan kemauan untuk mengadakan penelitian daripada
kemungkinan‑kemungkinan yang baru.
Melahirkan
idea yang berguna adalah dengan kerja keras, bukan hanya sesuatu angan‑angan
yang membahagiakan.
c.
Membuat iklim
yang baik.
Membuat iklim yang baik
perlu ditanamkan secara sistimatis. Membuat iklim yang baik dimaksudkan bahwa
anggota‑anggota organisasi merasa bebas untuk menyampaikan saran pendapatnya,
sekalipun idea ini berasal dari pengalaman yang lampau, norma‑norma kelompok,
atau pandangan daripada pimpinan yang berpengaruh. Kepala dan kelompok unitnya
memberikan dorongan yang positif terhadap seseorang yang ingin melakukan
sesuatu hal yang berlainan. Saling menghargai terhadap pendapat seseorang
adalah cukup baik untuk memelihara iklim yang baik di dalam pemecahan masalah.
d. Memproyeksikan konsekwensi
daripada berbagai alternatif
.
Sesudah masalahnya
diadakan diagnosa dan ditentukan adanya beberapa alternatif, pemecahan telah
diketahui, pengambil keputusan (decision
maker), meramalkan konsekwensi‑konsekwensi berikutnya untuk setiap
alternatif.
Tahap ketiga daripada
pengambilan keputusan menyangkut:
a. Ambillah faktor‑faktor yang kritis dan
curahkan per‑hatiannya di dalam membuat proyeksi.
b. Ramalkan sejumlah daripada tiap‑tiap
alternatif.
c. Apabila
sesuatu yang tidak berkententuan itu tidak dapat dielakkan adanya, peganglah
kemungkinan‑kemungkinan yang bersifat obyektif bahwa konsekwensi‑konsekwensi
daripada ramalannya itu akan dapat terjadi.
Membuat pilihan
Menentukan perbandingan yang tepat adalah salah satu usaha membuat
pilihan yang tepat.
Pembuat keputusan (decision maker)
tidak memerlukan sistem penilaian yang sempurna dalam arti yang absolut.
Kewajibannya dalam tahap‑tahap daripada proses, hanyalah untuk memutuskan bahwa
sejumlah daripada konsekwensi‑konsekwensi adalah lebih penting daripada faktor
lainnya.
Berikut ini dikemukakan suatu penilaian perbandingan, yang mungkin dapat
menentukan pemilihan secara tepat, yaitu:
a.
Pemanfaatan teori ekonomi
yang berdasarkan atas nilai marginal (marginal value).
Sebagai
contoh : Pemlihan antara sedikit untung atau sedikit stabil, dengan nilai
adanya penambahan keuntungan dan adanya stabilisasi. Hal ini tergantung atas
berapa hal yang perlu diperhitungkan dalam mengadakan pemilihan.
Di dalam suatu organisasi mungkin sedikit untung sesuatu hal
yang mempunyai arti yang tinggi, apabila kita telah mempunyai kondisi‑kondisi
keuangan yang baik, sedangkan penambahan keuntungan menjadi kurang penting.
Keadaan karyawan yang stabil mempunyai arti yang besar, terutama suatu korp karyawan yang mempunyai
keterampilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan karyawan lain yang prestasinya
yang belum tentu baik.
b. Konsepsi pemuasan.
Beberapa
pendapat mengenai hasil, dikehendaki adanya tingkat‑tingkat pencapaian,
sedangkan sesuatu di luar tingkat‑tingkat ini dianggap kurang bernilai. Di sini
hanya memusatkan pada suatu pencapaian hasil yang memuaskan pada suatu faktor
tertentu.
c. Perhitungan besarnya resiko.
Suatu badan usaha mungkin menolak semua saran‑saran yang
dapat menyebabkan kerugian sampai lebih 10 % (sepuluh persen) daripada usahanya
sekarang, karena perhitungan resiko yang dapat dipertanggung jawabkan maxumum
hanya 10 %.
Ketiga macam saran‑saran tersebut adalah sekedar se‑bagai pedoman dalam
membuat pilihan. Pimpinan masih haarus memutuskan apakah akibatnya apabila ia
mempertimbangkan hal‑hal yang dianggap baik, dan apakah akibatnya apabila ia
mempertimbangkan hal‑hal yang tidak dianggap baik. Ia harus mempunyai
pengetahuan terhadap nilai‑nilai kebenaran yang secara relatif penting untuk
mereka semdiri dan dalam usaha pemecahan masalah.
[32]
RI "Sistems
Analyses and Quantitative Techniques"Volume 1, Systematics quantana
dan Data, IBRD/UN Project INS/77/x01 PP. 44‑45
[33] H. Koontz & CO. Donnel. Management. A. Systems and contingency
Analysis of Managerial fuction. Mc. Graw, Hill Kogakuska, LTD. Six Edition
1976.pp196‑197.
[34] W.H. Newman. Op. Cit. pp. 105‑117.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar