BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sebagaimana
diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan
sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari
bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan manusia
dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan
kelompok dengan kelompok inilah yang disebut sebagai interàksi sosial. Banyak
pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental
bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm menyebutnya
bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat
terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat
mengembangkan komunikasi (Schramm; 1982). Apa yang mendorong manusia sehingga
ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya. Teori dasar Biologi menyebut adanya
dua kebutuhan, yakni kebutuhanuntük mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Narold D. Lasswell salah
seorang peletak dasar ilmu komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi
dasar yang menjadi penyebab, mengapa manusia perlu berkomunikasi: Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol
lingkungannya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang
ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam
alam sekitamya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau
peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan
pengetahuannya, yakni belajar dan pengalamannya, maupun melalui informasi yang
mereka terima dari lingkungan sekitarnya. Kedua,
adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses
kelanjutan suatu masyarakat Sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat itu
bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian di sini bukan saja terletak
pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir,
gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga lingkungan
masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan. Dalam lingkungan seperti ini
diperlukan penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana yang harmonis. Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi
warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya,
maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku,
dan peranan. Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama bermasyarakat
yang baik kepada anak-anaknya. Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik
warga negara Bagaimana media massa menyalurkan hati nurani khalayaknya, dan bagaimana
pemerintah dengan kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi kepentingan
anggota masyarakat yang dilayaninya. Ketiga fungsi ini menjadi patokan dasar
bagi setiap individu dalam berhubungan dengan sesama anggota masyarakat.
Profesor David K. Berlo dari Michigan State University menyebut secara ringkas
bahwa komunikasi sebagai instrumen dan interaksi sosial berguna untuk
mengetahui dan memprediksi sikap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan
diri sendin dalam menciptakan keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes, 1965). Jadi
komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk
mengatur tatakrama pergaulan antarmanusia, sebab berkomunikasi dengan baik akan
memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam
bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari,
pemuka agama, penyuluh lapangan, pramuniaga dan lain sebagainya. Pendek kata,
sekarang ini keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang
diinginkan termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya
berkomunikasi.
Komunikasi
massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak massa dengan
menggunakan saluran-saluran media massa. Jadi komunikasi massa tidak sama
dengan media massa. Media massa hanyalah salah satu faktor yang membentuk
proses komunikasi massa tersebut, yaitu sebagai alat atau saluran.
Iklan merupakan berita pesanan
untuk mendorong, membujuk orang agar tertarik pada barang yang ditawarkan.
Secara garis besar iklan dibagi menjadi dua, yang pertama iklan komersil yaitu
iklan yang bertujuan untuk meningkatkan pemasaran suatu produk dan jasa. Yang
kedua iklan non komersil yaitu bagian dari kampanye sosial dengan tujuan mengajak,
menghimbau atau menyampaikan gagasan demi kepentingan umum. Iklan non komersil
lebih dikenal dengan iklan layanan masyarakat.
1.2. Identifikasi Masalah.
Adapun dalam pembuatan makalah ini penulis mengidentifikasikan masalah yang di
anggap perlu dalam membantu menyelesaikan makalah ini, diantaranya yaitu:
1. Menjelaskan konsep komunikasi kesehatan.
2. Menjelaskan jenis –
jenis komunikasi.
3. Menjelaskan ruang lingkup komunikasi kesehatan.
4. Menjelaskan dampak komunikasi kesehatan
1.3. Batasan
Masalah.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas penulis juga menggunakan batasan
masalah yang meliputi :
1.
Konsep komunikasi kesehatan.
2.
Jenis – jenis komunkasi.
3.
Ruang lingkup komunikasi kesehatan.
4.
Dampak komunikasi kesehatan dalam
pembangunan kesehatan.
1.4. Rumusan
Masalah.
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini meliputi :
1.
Seperti apakah konsep komunikasi
kesehatan ?
2.
Seperti apakah jenis – jenis komunikasi
?
3.
Apa saja ruang lingkup komunikasi
kesehatan ?
4.
Apa dampak komunikasi kesehatan
dalam pembangunan kesehatan !
1.5. Tujuan Penulisan.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.
Untuk mengetahui konsep komunikasi kesehatan.
2.
Untuk mengetahui jenis – jenis
komunikasi.
3.
Untuk mengetahui ruang
lingkup komunikasi kesehatan.
4.
Untuk mengetahui dampak komunikasi kesehatan.
1.6. Manfaat
Penulisan.
Dalam
penyusunan makalah ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak. Adapun manfaat dari penulisan
makalah ini diantaranya yaitu :
1.
Memberikan pengetahuan tentang
konsep komunikasi kesehatan.
2.
Memberikan pengetahuan tentang jenis
– jenis komunikasi.
3.
Memberikan pengetahuan tentang ruang
lingkup komunikasi.
4.
Memberikan pengetahuan tentang
dampak komunikasi kesehatan dalam pembangunan kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Konsep Komunikasi Kesehatan
2.1.1 Komunikasi
Istilah ‘komunikasi’
(communication) berasal dari bahasa Latin ‘communicatus’ yang
artinya berbagi atau menjadi milik bersama. Dengan demikian komunikasi menunjuk
pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Secara harfiah, komunikasi berasal dari Bahasa
Latin: COMMUNIS yang berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan kata lain,
komunikasi adalah sutu proses di dalam upaya membangun saling pengertian. Dalam
suatu organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah
komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan
kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.
Menurut
Effendi (1995) komunikasi itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu proses
penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberikan atau untuk mengubah
sikap, pendapat atau perilaku baik secara langsung (lisan) maupun tak
langsung.
Komunikasi
adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus
(biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku
orang lain (khalayak). (Hovland, Janis dan Kelley : 1953).
Komunikasi
adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain
melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka
dan lain-lain. (Barelson dan Steiner, 1964).
Komunikasi adalah suatu proses
memberikan signal menurut aturan tertentu sehingga dengan cara ini suatu sistem
dapat didirikan, dipelihara, dan diubah. (Louis Forsdale, 1981).
Komunikasi dikatakan sebagai suatu proses
yaitu suatuaktivitas yang mempunyai beberapa tahap yang terpisah satu sama lain
tetapi berhubungan. (Brent D. Ruben, 1988).
Komunikasi adalah proses dengan nama
simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti (William J.
Seller, 1988).
Ketika dua orang
sedang bersama, mereka berkomunikasi secara terus menerus karena mereka tidak
dapat berperilaku. PALO ALTO sangat percaya bahwa seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi.
(PALO ALTO.
Komunikasi
adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem
yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyak - sinyal, maupun perilaku
atau tindakan. (HIMSTREET & BATY).
Komunikasi
adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan. (BOVEE).
Komunikasi
adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada
siapa dengan efek apa (LASWELL).
Komunikasi
adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang
kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol. (THEODORSON&THEDORSON).
Komunikasi
adalah seni menyampaikan informasi, ide dan sikap seseorang kepada orang lain.(EDWIN EMERY).
Komunikasi
adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesama manusia. (DELTON
E, Mc FARLAND).
Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti
pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada
semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan. (WILLIAM
ALBIG).
Komuniksi berarti suatu mekanisme hubungan antar manusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu. (CHARLES H. COOLEY).
Komuniksi berarti suatu mekanisme hubungan antar manusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu. (CHARLES H. COOLEY).
Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu
maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri
aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud
tersebut. (A.WINNET)
Komunikasi merupakan interaksi antar pribadi
yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal
(kata-kata) dan non verbal. Sistem ini dapat disosialisasikan secara langsung /
tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual). (KARFRIED
KNAPP).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah
pertukaran pesan verbal maupun nonverbal antara si pengirim dengan si penerima
pesan untuk mengubah tingkah laku. Perubahan tingkah laku maksudnya yaitu
perubahan yang terjadi didalam diri individu mungkin dalam aspek kognitif,
afektif, ataupun psikomotor.
Pentingnya
komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu juga halnya suatu
organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan
lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya
komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan.
2.1.2. Kesehatan
Kata
dasarnya adalah sehat, yang berarti baik itu sehat jasmani maupun rohani. Jadi,
Kesehatan adalah salah satu konsep yang sering digunakan namun sukar untuk
dijelaskan artinya. Faktor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan
kesehatan, kesakitan dan penyakit (Gochman,1988; De Clercq,1993). Setidaknya
definisi kesehatan harus mengandung paling tidak komponen : biomedis,personal
dan sosiokultural.
Keadaan
(status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial, dan bukan hanya
suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Definisi tersebut tidak hanya meliputi tindakan
yang dapat secara langsung diamati dan jelas tetapi juga kejadian mental dan
keadaan perasaan yang diteliti dan diukur secara tidak langsung.
2.1.3. Komunikasi Kesehatan
Komunikasi kesehatan yaitu proses penyampaian pesan kesehatan oleh komunikator melalui saluran/media
tertentu kepada komunikan dengan tujuan untuk mendorong perilaku manusia
tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan yang mengarah kepada keadaan
(status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial.
Jadi, komunikasi
Kesehatan adalah proses penyampaian informasi tentang kesehatan.
Komunikasi kesehatan lebih sempit
daripada komunikasi manusia pada umumnya. Komunikasi kesehatan berkaitan erat
dengan bagaimana individu dalam masyarakat berupaya menjaga kesehatannya,
berurusan dengan berbagai isu yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam
komunikasi kesehatan, fokusnya meliputi transaksi hubungan kesehatan secara
spesifik, termasuk berbagai faktor yang ikut berpengaruh terhadap transaksi
yang dimaksud.
Dalam tingkat komunikasi, komunikasi
kesehatan merujuk pada bidang – bidang seperti program – program kesehatan
nasional dan dunia, promosi kesehatan,
dan rencana kesehatan publik.
Dalam konteks kelompok kecil,
komunikasi kesehatan merujuk pada bidang – bidang seperti rapat – rapat
membahas perencanaan pengobatan, laporan staf, dan interaksi tim medis.
Dalam konteks interpersonal,
komunikasi kesehatan termasuk dalam komunikasi manusia yang secara langsung
mempengaruhi profesional – profesional dan profesional dengan klien.
Komunikalevasi kesehatan dipandang sebagai bagian dari bidang – bidang ilmu
yang relevan, fokusnya lebih spesifik dalam hal pelayanan kesehatan.
2.2. Jenis – jenis Komunikasi
Pada
dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan
antara manusia atau kelompok. Jenis komunikasi
terdiri dari komunikasi verbal dengan kata-kata dan komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh
1. Komunikasi
Verbal, mencakup aspek-aspek berupa ;
a.
Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan
efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena
itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
b.
Racing
(kecepatan).
Komunikasi akan lebih efektif dan sukses
bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau
terlalu lambat.
c.
Intonasi
suara: akan mempengaruhi
arti pesan secara dramatik sehingga
pesan akan menjadi lain artinya bila
diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional
merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d.
Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan
(1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu
menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa
mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah
merupakan satu-satunya selingan dalam
berkomunikasi.
e.
Singkat
dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat
dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f.
Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu
diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat
menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
2.
Komunikasi
Non Verbal.
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan
arti pada komunikasi verbal.Yang
termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi
wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan
komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.
b.
Kontak
mata, merupakan sinyal
alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama
berinterakasi atau tanya jawab berarti
orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak
mata juga memberikan kesempatan pada
orang lain untuk mengobservasi yang lainnya
c.
Sentuhan adalah bentuk
komunikasi personal mengingat sentuhan
lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh,
dukungan emosional, kasih sayang atau
simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
d.
Postur
tubuh dan gaya berjalan.
Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi
dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan
tingkat kesehatannya.
e.
Sound
(Suara). Rintihan, menarik
nafas panjang, tangisan juga salah satu
ungkapan perasaan dan pikiran
seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan
semua bentuk komunikasi non verbal
lainnya sampai desis atau suara
dapat menjadi pesan yang sangat
jelas.
f.
Gerak
isyarat, adalah yang dapat
mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari
komunikasi seperti mengetuk-ngetukan
kaki atau mengerakkan tangan selama
berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan
stress bingung atau sebagai upaya
untuk menghilangkan stress.
Komunikasi merupakan proses
kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan
dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993),
komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan
publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik.
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua
orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi
interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide,
pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.
Komunikasi sebagai proses memiliki bentuk :
1. Bentuk
Komunikasi berdasarkan medianya :
a. Komunikasi
langsung
Komunikasi
langsung tanpa mengguanakan alat.
Komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang
berarti khusus dan penggunaan isyarat,misalnya kita berbicara langsung kepada
seseorang dihadapan kita.
A--------àß-----------B
b. Komunikasi
tidak langsung
|
Tempat Sampah
|
Contoh : “ Buanglah sampah pada
tempatnya
2.
Bentuk
komunikasi berdasarkan besarnya sasaran
:
a.
Komunikasi
massa, yaitu
komunikasi dengan sasarannya kelompok
orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak dikenal.
Komunikasi masa yang baik
harus :
Pesan disusun
dengan jelas, tidak rumit dan
tidak bertele-tele
Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
Bentuk gambar yang baik
Membentuk
kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio)
a. Komunikasi
kelompok
Adalah
komunikasi yang sasarannya sekelompok orang yang umumnya dapat dihitung dan
dikenal dan merupakan komunikasi langsung dan timbal balik.
Perawat----- ® ¬ ------Pengunjung
puskesmas
b. Komunikasi
perorangan.
Adalah komunikasi
dengan tatap muka dapat juga melalui telepon.
Perawat-----
® ¬ ------Pasien
3.
Bentuk
komunikasi berdasarkan arah pesan :
- Komunikasi
satu arah
Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran dan sasaran tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk
memberikan umpan balik atau bertanya, misalnya radio.
A
------------------®
B
b. Komunikasi
timbal balik.
Pesan
disampaikan kepada sasaran dan sasaran
memberikan umpan balik. Biasanya
komunikasi kelompok atau perorangan merupakan komunikasi timbal balik
2.3. Ruang Lingkup Komunikasi Kesehatan
Ruang lingkup komunikasi kesehatan meliputi pencegahan penyakit, promosi
kesehatan, kebijakan kesehatan, dan bisnis perawatan kesehatan serta
peningkatan kualitas hidup dan kesehatan individu dalam masyarakat.
A. Pencegahan Penyakit ( Preventif )
Dalam garis besarnya usaha-usaha
kesehatan, dapat dibagi dalam 4 golongan, yaitu :
1)
Usaha pencegahan (usaha preventif)
2)
Usaha pengobatan (usaha kuratif)
3)
Usaha promotif
4)
Usaha rehabilitative
Dari keempat jenis usaha ini, usaha
pencegahan penyakit mendapat tempat yang utama, karena dengan usaha pencegahan
akan diperoleh hasil yang lebih baik, serta memrlukan biaya yang lebih murah
dibandingkan dengan usaha pengobatan maupun rehabilitasi. Dapat kita mengerti
bahwa mencegah agar kaki tidak patah akan memberikan hasil yang lebih baik serta
memerlukan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan mengobati kaki yang sudah
patah ataupun merehabilitasi kaki patah dengan kaki buatan.
Leavell dan Clark dalam bukunya “
Preventive Medicine for the Doctor in his Community” , membagi usaha pencegahan
penyakit dalam 5 tingkatan yang dapat dilakukan pada masa sebelum sakit dan
pada masa sakit. Usaha-usaha pencegahan itu adalah :
§
Masa sebelum sakit
1)
Mempertinggi nilai kesehatan (health promotion)
Usaha ini merupakan pelayanan
terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya. Beberapa usaha diantaranya :
ü Penyediaan makanan sehat cukup
kualitas maupun kuantitasnya.
ü Perbaikan hygiene dan sanitasi
lingkungan, seperti : penyediaan air rumah tangga yang baik, perbaikan cara
pembuangan sampah, kotoran dan air limbah dan sebagainya.
ü Pendidikan kesehatan kepada
masyarakat
ü Usaha kesehatan jiwa agar tercapai
perkembangan kepribadian yang baik
2)
Memberikan perlindungan khusus terhadap suatu penyakit (spesific
protection)
Usaha ini merupakan tindakan
pencegahan terhadap penyakit-penyakit tertentu. Beberapa usaha
diantaranya adalah :
ü Vaksinasi untuk mencegah
penyakit-penyakit tertentu
ü Isolasi penderita mpenyakit menular
ü Pencegahan terjadinya kecelakaan
baik di tempat-tempat umum maupun di tempat kerja
§
Pada masa sakit
3)
Mengenal dan mengetahui jenis penyakit pada tingakt awal,
serta mengadakan pengobatan yang
tepat dan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Tujuan utama dari usaha ini adalah :
a.
Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepatnya dari seytiap
jenis penyakit sehingga tercapai penyembuhan yang sempurna dan segera
b.
Pencegahan menular kepada orang lain, bila penyakitnya
menular
c.
Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan suatu
penyakit
Beberapa usaha diantaranya :
ü Mencari penderita di dalam
masyarakat dengan jalan pemeriksaan misalnya pemeriksaan darah, rontgen,
paru-paru dsb, serta memberikan pengobatan.
ü Mencari semua orang yang telah
berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact person) untuk
diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat diberikan segera pengobatan dan
tindakan-tindakan yang lain misalnya isolasi, desinfeksi, dsb.
ü Pendidikan kesehatan kepada
masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala penyakit pada tingkat awal dan
segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau
tidaknya usaha pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta
keahlian tenaga kesehatnnya, melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan
itu diberikan. Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan usaha penyembuhan
menjadi lebih sulit, bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi misalnya pengobatan
kanker (neoplasma) yang terlambat. Kemungkinan kecacatan terjadi lebih
besar penderitaan si sakit menjadi lebih lama, biaya untuk pengobatan dan
perawatan menjadi lebih besar.
4) Pembatasan kecacatan dan berusaha
untuk menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu penyakit
(disibility limitation)
Usaha ini merupakan lanjutan dari
usaha poin c, yaitu dengan pengobatan dan perawatan yang sempurna agar
penderita sembuh kembali dan tidak cacat. Bila sudah terjadi kecacatan, maka
dicegah agar kecacatan tersebut tidak bertamabah berat (dibatasi), fungsi
dari alat tubuh yang menjadi cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin.
5) Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah usaha untuk
mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat, sehingga dapat berfungsi
lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat,
semaksimalnya sesuai dengan kemampuannya. Rehabilitasi ini terdiri atas :
a.
Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita
memperoleh perbaikan fisik semaksimalnya. Misalnya, seorang yang karena
kecelakaan, patah kakinya, perlu mendapatkan rehabilitasi dari kaki yang patah
yaitu denganmempergunakan kaki buatan yang fungsinya sama dengan kaki yang
sesungguhnya.
b.
Rehabilitasi mental
Yaitu agar bekas penderita dapat
menyusuaikan diri dalam hubungan perorangan dan social secara memuaskan
.seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badania muncul pula
kelainan-kelaianan atau gangguan mental.untuk hal ini bekas penderita perlu
mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali kedalam masyarakat.
c. Rehabilitasi social vokasional
Yaitu agar bekas penderita menempati
suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja yang
semaksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak mampuannya.
d. Rehabilitasi aesthetis
Usaha rehabilitasi aesthetis perlu
dilakukan untuk mengembalikan rasa keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi
dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya: misalnya
penggunaan mata palsu.
Usaha pengembalian bekas penderita
ini kedalam masyarakat, memerlukan bantuan dan pengertian dari segenap anggota
masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami keandaan mereka (fisik mental dan
kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses penyesuian dirinya dalam
masyarakat dalam keadan yang sekarang ini.
Sikap yang diharapkan dari warga
masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila yang berdasarkan unsure
kemanusian dan keadailan social. Mereka yang direhabilitasi ini memerlukan
bantuan dari setiap warga masyarakat, bukan hanya berdasarkan belas kasian
semata-mata, melainkan juga berdasarkan hak asasinya sebagai manusia.
B. Promosi kesehatan.
Promosi kesehatan berasal dari kata
dalam bahasa inggris yaitu health promotion. Sesungguhnya, penerjemahan kata
health promotion atau tepatnya promotion of health kedalam bahasa Indonesia
pertama kali dilakukan ketika para ahli kesehatan masyarakat di Indonesia
menerjemahkan lima tingkatan pencegahan (five levels of prepention) dari
H.R.Leavell dan E. G. Clark dalam buku preventive medicine for the doctor in
his community. Menurut leavell dan clark (1965), dari sudut pandang kesehatan
masyarakat, terdapat 5 tingkat pencegahan terhadap penyakit, yaitu : 1)promotion
of healt 2)specifik protection 3)early diagnosis and prompt
treatment 4)limitation of disability dan 5)rehablitation.
Tingkat pencegahan yang
pertama,yaitu promotion of healt oleh para ahli kesehatan masyarakat di
Indonesia di terjemahkan menjadi peningkatan kesehatan,bukan promosi
kesehatan.Mengapa demikian? Tidak lain karena makna yang terkandung dlam
istilah promotion of health disini adalah meningkatkan kesehatan
seseorang,yaitu melalui asupan gizi seimbang,olahraga teratur,dan lain
sebagainya agar orang tersebut tetap sehat,tidak terserang penyakit.
Namun demikian,bukan berarti bahwa
peningkatan kesehatan tidak ada hubungannya dengan promosi kesehatan. Leavell
dan Clark dalam penjelasannya tengtan promotion of health menyatakan bahwa
selain melalui peningktan gizi dll,peningkatan kesehatan juga dapat di lakukan
dengan memberikan pendidikan kesehatan (health education)kepada individu dan
masyarakat.
Organisasi kesehatan dunia WHO telah
merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan : “ Health
promotion is the process of enabling people to increase control over, and
improve, their health. To reach a state of complete physical, mental, and
social, well-being, an individual or group must be able to identify and realize
aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment “.
(Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan
diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk
mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka
masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan
mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya
dan sebagainya). Dalam konferensi ini ,health promotion di maknai sebagai
perluasan dari healt education atau pendidikan kesehatan.
C. Kebijakan kesehatan
a.
Definisi Kebijakan Kesehatan
Ilmu kebijakan
adalah ilmu yang mengembangkan kajian tentang hubungan antara pemerintah dan
swasta, distribusi kewenangan dan tanggung jawab antar berbagai level
pemerintah, hubungan antara penyusunan kebijakan dan pelaksanaannya, ideologi
kebijakan makna reformasikesehatan. Ilmu manajemen digunakan dalam ilmu
kebijakan yaitu dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan kesehatan, teori
dan konsep manajemen tidak dapat diabaikan. Apa sistem kebijakan kesehatan itu?
§
Kebijakan (Policy):
Sejumlah keputusan yang dibuat oleh mereka yang bertanggung jawab dalam bidang
kebijakan tertentu
§
Kebijakan Publik (Public
Policy): kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah atau Negara
§
Kebijakan Kesehatan (Health
Policy): Segala sesuatu untuk mempengaruhi faktor – faktor penentu di
sektor kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat; dan
bagi seorang dokter kebijakan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan
layanan kesehatan (Walt, 1994)
b.
Kerangka Konsep dalam Kebijakan Kesehatan
Ada 3 kerangka konsep kesehatan yaitu :
1)
Konteks
2)
Isi konten,terdiri dari
aktor/Pelaku:
§
Individu
§
Pelaku
§
Organisasi
3)
Proses
Keuntungan
Analisis Kebijakan adalah kaya penjelasan mengenai apa dan bagaimana hasil (outcome)
kebijakan akan dicapai, dan piranti untuk membuat model kebijakan di masa depan
dan mengimplementasikan dengan lebih efektif.
c.
Contoh Penggunaan Analisis Kebijakan:
Kasus : Tarif untuk
meningkatkan efisiensi di pelayanan kesehatan
Konteks : kondisi ekonomi,
ideologi, dan budaya
Konten/ Isi :
·
Apa tujuan yang ingin
dicapai?
·
Apakah ada
pengecualian?
Aktor/
Pelaku : Siapa
yang mendukung dan menolak kebijakan tarif?
Proses
:
·
Pendekatan Top- Down?
·
Bagaimana kebijakan ini
akan dikomunikasikan
d.
Faktor Kontekstual yang Mempengaruhi Kebijakan:
·
Faktor situasional:
Faktor yang tidak permanen atau khusus yang dapat berdampak pada kebijakan
(contoh: kekeringan).
·
Faktor struktural: bagian
dari masyarakat yang relatif tidak berubah (misal: system politik).
·
Faktor Budaya: Faktor
yang dapat berpengaruh seperti hirarki, gender, stigma terhadap penyakit
tertentu.
·
Faktor Internasional
atau eksogen: faktor ini menyebabkan meningkatnya ketergantunganantar negara
dan mempengaruhi kemandirian dan kerja sama internasional dalam kesehatan.
e. Proses
Penyusunan Kebijakan menggunakan Segitiga Kebijakan Kesehatan
Segitiga kebijakan kesehatan
digunakan untuk memahami kebijakan tertentu dan menerapkan untuk merencanakan
kebijakan khusus dan dapat bersifat:
·
Retrospektif (meliputi
evaluasi dan monitoring kebijakan)
·
Prospektif (Memberi
pemikiran strategis, advokasi dan lobi kebijakan)
f. Kebijakan
Pemerintah dalam Bidang Kesehatan
I.
Dasar Hukum Menimbang
1. SKep
Men Kes RI No 99a/Men.Kes /SK/III/1982 Tentang berlakunya Sistem Kesehatan
Nasional.
2. TAP
MPR RI VII tahun 2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan.
3. Undang-undang
No 23 Tahun 1992 tentang pokok-pokok kesehatan.
4. Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan
Propinsi sebagai Daerah Otonomi.
5. Undang-undang
Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan
daerah.
6. Keputusan
Menteri Kesehatan RI. No 574/ Men.Kes. `/SK/IV/2000 tentang Pembangunan Kesehatan
Menuju Indonesia Sehat tahun 2010.
7. Keputusan
Menteri Kesehatan RI. No 1277/Men. Kes/SK/X/2001 tentang Susunan organisasi dan
Tata Kerja Departemen Kesehatan
II. Memutuskan
Menetapkan :
1. Keputusan
Menteri Kesehatan tentang Sistem Kesehatan Nasional.
2. Sistem
Kesehatan Nasional Dimaksud dalam dictum dimaksud agar digunakan sebagai
Pedoman semua pihak dalam penyelenggaran pembangunan kesehatan di Indonesia
Pedoman semua pihak dalam penyelenggaran pembangunan kesehatan di Indonesia
3. Keputusan
ini berlaku mulai pada tanggal ditetapkan dengan ketentuan akan diadakan
perubahan sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan
ditetapkan 10 Februari 2004 ( Jakarta/ MenKes RI).
D.
Bisnis Keperawatan
Keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu
dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang
komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik yang
sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus hidup manusia. Demikian yang
dimaksud dengan pengertian keperawatan menurut hasil Lokarya
Keperawatan Nasional Tahun 1983.
Perkembangan
Pelayanan Keperawatan Perubahan sifat pelayanan dari fokasional menjadi
profesional dengan fokus asuhan keperawatan dengan peran preventif dan promotif
tanpa melupakan peran kuratif dan rehabilitatif harus didukung dengan
peningkatan sumber daya manusia di bidang keperawatan. Sehingga pada
pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan dapat terjadinya pelayanan yang
efisien, efektif serta berkualitas.
Selanjutnya, saat ini juga telah berkembang berbagai model prakti keperawatan profesional, seperti:
Selanjutnya, saat ini juga telah berkembang berbagai model prakti keperawatan profesional, seperti:
·
Praktik
keperawatan di rumah sakit fasilitas kesehatan.
·
Praktik
keperawatan di rumah (home care).
·
Praktik
keperawatan berkelompok (nursing home = klinik bersama, dan
·
Praktik
keperawatan perorangan, yaitu melalui keputusan Kepmenkes No. 647 tahun 2000,
yang kemudian di revisi menjadi Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang
Registrasi dan Praktik Keperawatan.
Pertumbuhan
Pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Diprediksikan pada tahun 2010
ada 54 juta pengguna internet di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis
besarnya dan meruapakn sebuah peluang bagi perawat untuk meningkatkan cakupan
pelayanan keperawatan keseluruh wilayah Indonesia dengan efisiensi yang tinggi.
teknologi informasi internet tersebut, istilah telemedicine, telehealth dan
telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan.
(Martono N. www.inna.ppni.org .2006).
Telenursing
sudah diterapkan di berbagai negara seperti di Amerika, Yunani, Israel, Jepang,
Italia, Denmark, Belanda, Norwegia, Jordania, India dan bahkan Malaysia.
Organisasi perawat Amerika pada tahun 1999 telah merekomendasikan pengembangan
analisa komprehensif penggunaan telenursing. Di Amerika Serikat, 36%
peningkatan kebutuhan perawat home care dalam 7 tahun mendatang dapat
ditanggulangi dengan telenursing dan di negara lainpun dilaporkan telah
menggunakan pelayanan telekomunikasi di rumah untuk perawatan home care dengan
telenursing.
Layanan
kesehatan khususnya keperawatan jarak jauh dengan menggunakan media teknologi
informatika (internet) memberikan kemudahan bagi masyarakat. Masyarakat atau
pasien tidak perlu datang ke rumah sakit, dokter atau perawat untuk mendapatkan
layanan kesehatan. Waktu yang diperlukan untuk layanan kesehatan juga semakin
pendek. Pasien dapat hanya dirumah dan melakukan kontak via internet atau
melalui video converence untuk mendapatkan informasi kesehatan, perawatan dan
bahkan sampai pengobatan.
2.4. Dampak Komunikasi Kesehatan dalam Pembangunan Kesehatan
Mengapa Komunikasi
Kesehatan Diperlukan di Bidang Kesehatan
Komunikasi Kesehatan
menjadi semakin populer dalam upaya promosi kesehatan selama 20 tahun terakhir.
Contoh, komunikasi kesehatan memegang peranan utama atau pengontribusi dalam
pemenuhan 219 dari 300 tujuan khusus dalam Healthy People 2010.
Apabila digunakan secara tepat, komunikasi kesehatan dapat mempengaruhi sikap,
persepsi, kesadaran, pengetahuan dan norma sosial yang kesemuanya berperan
sebagai precursor dalam perubahan prilaku. Komunikasi kesehatan sangat efektif
dalam mempengaruhi prilaku karena didasarkan pada psikologi sosial, pendidikan
kesehatan, komunikasi massa, dan pemasaran untuk mengembangkan dan menyampaikan
promosi kesehatan dan pesan pencegahan–pencegahan.
Karya awal yang
mempengaruhi perkembangan komunikasi kesehatan di susun oleh National Cancer
Institute (NCI) dan diberi judul Making Health Communication Programs
Work: A Planner’s Guide. Panduann ini menyatakan bahwa bidang ilmu seperti
pendidikan kesehatan, pemasaran sosial, dan komunikasi massa secara bersama
mendefinisikan komunikai kesehatan. Bukan hal luar biasa apabila mendengar
peryataan bahwa komunikasi kesehatan bahkan merupakan nama yang lebih baik
untuk profesi daripada promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan bahwa segala
sesuatu yang dilakukan dalam promosi kesehatan melibatkan komunikasi untuk
kesehatan. Kenyataannya, komunikasu kesehatan telah didefinisikan secara luas
oleh Everett Rogers, seorang pelopor dalam bidang komunikasi, sebagai segala
jenis komunikasi manusia yang berhubungan dengan kesehatan.
Komunikasi kesehatan
juga dapat mencerminkan bagaimana persoalan kesehatan diterima oleh audiens
tertentu. Contoh, NCI mendefinisikan komunikasi kesehatan sebagai seni dan
teknik menyampaikan informasi, mempengaruhi, dan memotivasi individu,
institusi, dan audiens public tentang pentingnya persoalan kesehatan. The
Centers of Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan komunikasi
kesehatan sebagai suatu ilmu dan sebagai penggunaan strategi komunikasi untuk
menyampaikan informasi dan mempengaruhi keputusan individu dan masyarakat yang
dapat meningkatkan kesehatan. Walau begitu, masih ada orang yang membicarakan
konsep tersebut dengan menekankan berbagai bentuk aplikasinya , termasuk
advokasi media, komunikasi resiko, pendidikan hiburan, materi cetak, dan
komunikasi interaktif.
Ada dua perspektif
utama yang diambil ketika mempertimbangkan komunikasi kesehatan dalam praktik
promosi kesehatan saat ini. Beberapa praktisi memandang komunikasi massa
sebagai proses menyeluruh yang membingkai penerapan intervensi promosi
kesehatan. Praktisi ini memandang komunikasi kesehatan sebagai strategi atau
aktifitas sempit seperti publikasi informasi atau sejenis komunikasi. Antar
personal yang mungkin berlangsung antara pendidik kesehatan dan kliennya. Kedua
pemikiran itu menyebabkan komunikasi kesehatan rentan terhadap penafsiran yang
luas dan kesalahpahaman.
Jadi,komunikasi
kesehatan diperlukan di bidang kesehatan karena komunikasi dalam kesehatan
merupakan kunci pencapaian peningkatan tarap atau tingkat kesehatan masyarakat.
Sejauh ini komunikasi senantiasa berkembang seiring berkembangnya dunia
teknologi komunikasi. Komunikasi yang dulunya biasa dilakukan dengan penyuluhan
yang secara langsung berhadapan dengan masyarakat dan dilakukan dengan media
audio/radio sekarang lebih popular dengan penyampaian pesan atau informasi
kesehatan melalui media internet maupun media cetak dan elektronik. Tidak hanya
bernilai praktis namun mempunyai nilai ekonomis dan tampilannya lebih menarik.
Media yang berkembang tersebut sangat membantu dalam ketercapaian komunikasi
kesehatan karena tercapai atau tidaknya komunikasi kesehatan lebih dikarenakan
penggunaan media informasi yang tepat, pesan yang sistematis dan mudah
dimengerti.
Dampak komunikasi
kesehatan dalam pembangunan kesehatan yaitu sebagai berikut :
1. Komunikasi kesehatan
merujuk pada bidang – bidang seperti program – program kesehatan nasional dan
dunia, promosi kesehatan, dan rencana kesehatan publik sehingga secara tidak
langsung komunikasi kesehatan ini berperan dalam proses pembangunan kesehatan.
2. Komunikasi kesehatan
mampu menumbuhkan aspirasi masyarakat dari segala bidang kehidupannya sehingga
hal ini dapat memperlancar proses pembangunan kesehatan.
3. Komunikasi kesehatan
beroperasi pada level atau konteks komunikasi antar personal, kelompok,
organisasi, publik, dan komunikasi massa sehingga proses pembangunan kesehatan
dapat dijalankan secara merata.
4. Komunikasi kesehatan
mencakup variasi interaksi dalam kerja kesehatan misalnya komunikasi dengan
pasien di klinik, self help groups, mallings, hotlines, dan kampanye media
massa, dimana hal ini akan lebih mudah dalam menyusun rencana pembangunan
kesehatan yang lebih baik sesuai dengan permasalahan kesehatan yang dialami
oleh suatu masyarakat.
5. Komunikasi kesehatan
merupakan pendekatan yang menekankan usaha mengubah perilaku audiens agar
mereka tanggap terhadap masalah tertentu dalam satuan waktu tertentu yang
nantinya hal ini dapat berpengaruh pada proses pembangunan kesehatan.
6. Komunikasi kesehatan
merupakan pemanfaatan media dan teknologi komunikasi dan teknologi informasi
dalam penyebarluasan informasi kesehatan sehingga dapat memudahkan rencana
pembangunan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah ini, maka penulis menarik
beberapa kesimpulkan, yakni sebagai berikut:
1. Komunikasi
kesehatan yaitu proses penyampaian pesan
kesehatan oleh komunikator melalui saluran/media tertentu kepada komunikan
dengan tujuan untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan
sebagai kekuatan yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh secara fisik,
mental (rohani), dan sosial.
2.
Jenis –
jenis komunikasi ada dua yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.
3.
Ruang
lingkup komunikasi kesehatan adalah pencegahan penyakit, promosi kesehatan,
kebijakan kesehatan, dan bisnis perawatan kesehatan serta peningkatan kualitas
hidup dan kesehatan individu dalam masyarakat.
4. Dampak komunikasi kesehatan terhadap pembangunan kesehatan sebenarnya
berbanding lurus. Makin berhasil komunikasi kesehatan, maka makin berhasil pula
pembangunan kesehatan itu.
3.2. Saran
Adapun saran yang dapat kami
sampaikan adalah komunikasi dalam kesehatan
hendaknya selalu mengalami perubahan seiring perubahan lingkungan dan
disesuaikan dengan keadaan masyarakat dan pelaku atau komunikator hendaknya
lebih variatif dan inovatif dalam penyampaian pesan informasi kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Alo, Lilliweri. 2008. Dasar – dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Arikunto Suharsimi.Dr., 1988. Organisasi dan Administrasi Pendidikan
Teknologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Muhammad Arni.Dr., 2002. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Robert
J. Bensley & Jodi Brookins-Fisher, Metode Pendidikan Kesehatan Msyarakat,
EGCISBN9794489212, 9789794489215, (Terjemahan Buku Online/Ebook).
Anonymous. 2008.
Trasparansi komunikasi kesehatan. http://sbektiistiyanto.files.wordpress.com/2008/02/transparansi-komkes.ppt.
Diakses tanggal 3 Desember 2012.
Anonymous. 2009.
Makalah Komunikasi Kesehatan. www.pdfqueen.com/pdf/ma/makalah-komunikasi-kesehatan/.
Diakses tanggal 2 Desember 2012.
Anonymous. 2010. psikm.unand.ac.id/?tag=komunikasi-kesehatan. Diakses
tanggal 2 desember 2012.
Anonymous. 2009.
Pengertian Dan Definisi Komunikasi
Menurut Para Ahli. http://pengertian_definisi_komunikasi_menurut_para_ahli_info487.html.
diakses tanggal 3 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar